Tiga Kebijakan Mendikbud Anies Kontraproduktif

Tiga Kebijakan Mendikbud Anies Kontraproduktif

Mendikbud,Anies Baswedan.(Foto:Net)

Jakarta - Tiga kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dasar-Menengah dinilai ngawur dan  kontraproduktif, karena tidak melalui analisis serta kajian yang mendalam. 

Di antaranya, menghentikan pemberlakukan kurikulum 2013, mengajak investor asing membangun SMK dan mengganti buku pelajaran yang menggunakan kertas dengan electronic book atau disebut e-Sabak. 

Demikian penilaian Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PP Pemuda Muhammadiyah, Muhammad Abrar Parinduri, (Sabtu, 17/1).  Menurutnya, tiga kebijakan Kemendikbud itu secara sepintas dirasakan berpihak pada kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. 

"Namun jika dikaji lebih jauh justru kebijakan itu  membawa dunia pendidikan Indonesia pada situasi yang tidak menentu dan pudarnya nilai-nilai luhur pendidikan yang telah ditanamkan para the founding father pendidikan Indonesia," tegasnya.

Penghentian pemberlakukan kurikulum 2013, lanjutnya Menteri Anies Baswedan tak mengerti bahwa secara tidak langsung turut membiarkan terjadinya kerusakan moral dan kebangkrutan akhlak para pelajar. Karena munculnya kurikulum 2013 berangkat dari kegelisahan orangtua dan stake holders pendidikan terhadap maraknya kasus kekerasan seperti tawuran, narkoba dan perbuatan asusila di kalangan pelajar.

Sementara soal pelibatan investor asing dalam pembangunan SMK, Abrar juga menekankan, bertentangan dengan semangat nasionalisme kebangsaan. 
Indonesia memiliki banyak pengusaha pribumi yang punya komitmen tinggi terhadap kemajuan negara khususnya bidang pendidikan. Dana CSR yang berasal dari BUMN juga sangat memungkinkan untuk pembangunan SMK di berbagai daerah. 

"Yang dibutuhkan sebenarnya bukan investor asing tetapi optimalisasi dan pengawasan terhadap APBN dan APBD agar tepat guna dan tepat sasaran," imbuhnya.

Terkait program e-Sabak (tablet), tujuan utama dari program ini mengganti buku pelajaran yang semula dalam bentuk kertas menjadi buku elektronik. Perangkat utama yang dibutuhkan dalam program ini adalah listrik dan tablet. Padahal, di daerah masih banyak masyarakat yang tidak menikmati aliran listrik. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:pendidikan,