Ubi Cilembu Berdaya Saing di ASEAN

Ubi Cilembu Berdaya Saing di ASEAN

ilustrasi. (Net)

Bandung - Ubi madu Cilembu Kabupaten Sumedang memiliki daya saing tinggi dan memimpin di pasar ekspor ASEAN sekaligus potensi besar menjelang pemberlakuan MEA 2015.

"Permintaan ekspor ke luar negeri terutama ke sejumlah negara ASEAN, kami belum bisa memenuhi semua permintaan itu," kata salah seorang penyalur ubi madu UD Barokah, Wawan Hidayat (35) di Sumedang, Senin (19/1/2015).

Wawan menjelaskan permintaan ubi madu untuk ekspor berkisar antara 10-20 ton per sepuluh hari dengan tujuan Singapura, Malaysia dan Jepang.

Meningkatnya permintaan tidak sebanding dengan jumlah produksi ubi di Desa Cilembu, Sumedang, sehingga permintaan ekspor dari sejumlah negara seperti India belum bisa terpenuhi.

"Ubi madu itu hanya cocok tumbuh di daerah Cilembu. Di tempat lain juga tumbuh, tapi tidak semanis ubi dari sini, sehingga hasil panennya pun sebatas wilayah Cilembu saja," kata Wawan.

Ia mengaku saat ini persediaan ubi madu tidak terlalu besar karena kebanyakan lahan petani belum memasuki musim panen. Hal itu menyebabkan harga ubi madu mentah naik dari Rp5.000 per kilogram menjadi Rp6.000 per kilogram.

"Bila diekspor harganya naik lebih dari Rp10.000 per kilogram dan saat sampai di negara tujuan bisa dijual sampai Rp100.000 per kilogram," katanya.

Meski diminati konsumen di sejumlah negara di ASEAN, Wawan mengaku khawatir persediaan ubi madu tidak mampu memenuhi pasar lokal karena pedagang lebih memilih menjual ubinya ke luar negeri karena tergiur harga yang tinggi. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,