Beranda Ilmu Pengetahuan Apakah pertanian tech dense adalah masa depan pertanian?

Apakah pertanian tech dense adalah masa depan pertanian?

40
0

Jakarta, Indonesia – Menurut laporan pemerintah, Amerika Serikat memiliki lebih sedikit tetapi lebih “kaya teknologi” peternakan.

Jake Leguee adalah petani generasi ketiga di Saskatchewan, Kanada. Sejak kakeknya membeli 640 hektar tanah pada tahun 1956, peternakan yang dikelola oleh keluarganya telah berkembang menjadi ukuran saat ini, yaitu 17.000 hektar, ditanami dengan kanola, gandum, rami, dan kacang lentil hijau.

Petani lain di Amerika Utara juga mulai mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan hasil panen mereka. Survei McKinsey tahun 2024 menemukan bahwa 57% petani Amerika Utara kemungkinan besar akan mencoba teknologi peningkatan hasil yang baru dalam dua tahun mendatang.

Dan di Jerman, Jean-Pascal Lutze mendirikan NoMaze untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada petani tentang bagaimana berbagai tanaman akan berkinerja di bawah kondisi iklim yang berbeda. Perangkat lunak mereka sedang diperkenalkan tahun ini.

Dampak dari teknologi-teknologi ini mungkin akan dirasakan oleh konsumen, kata Heather Darby, seorang ahli agronomi dan spesialis tanah di University of Vermont. Menghasilkan lebih banyak makanan untuk pasar bisa berarti harga yang lebih rendah di kasir, katanya.

Teknologi pertanian terus berkembang, dan petani seperti Leguee menekankan pentingnya untuk membuka diri terhadap perubahan. Elemen penting dari lanskap peternakan modern adalah menerima teknologi yang bekerja untuk mereka, terutama dalam mendukung keberlanjutan bisnis pertanian yang sulit.