Di Arktik, salmon lebih dari sekadar ikan. Ini adalah makanan, budaya, identitas – dan sekarang, sedang mengalami krisis.
Dewan Arktik merilis episode baru dari podcastnya, This Way Up, yang menangani krisis salmon di Arktik.
Dalam episode ini, kita melakukan perjalanan ke Sungai Deatnu di perbatasan utara Norwegia dan Finlandia di Sápmi, di mana penurunan stok salmon Atlantik telah menyebabkan larangan penangkapan ikan dan perselisihan tentang bagaimana melangkah ke depan ke depan. Kami berbicara dengan seorang nelayan dari Alaska, di mana penurunan stok salmon di sungai-sungai di sana menimbulkan pertanyaan serupa tentang keamanan pangan dan apa artinya ketika landasan budaya sedang krisis.
Melalui suara nelayan lokal Aslat Holmberg dan Deenaalee Chase-Hodgdon, serta ilmuwan Jaakko Erkinaro, kami menjelajahi krisis salmon yang sedang berlangsung di Arktik dan apa arti keamanan pangan dan kedaulatan pangan dalam praktiknya. Anda akan belajar mengapa beberapa spesies salmon cepat menurun, spesies invasif baru yang muncul dan bagaimana langkah-langkah untuk melestarikannya telah mengguncang dasar masyarakat. Anda juga akan belajar tentang hubungan budaya yang berbeda dengan salmon, bagaimana Suku Asli beradaptasi dengan realitas baru dan mengapa keputusan manajemen tidak dapat dibuat hanya berdasarkan ilmu pengetahuan. Ini adalah kisah tentang pengetahuan, identitas dan membangun jembatan yang menimbulkan pertanyaan – bagaimana Anda mengelola sungai dan spesies yang sedang krisis, dan siapa yang berhak memutuskan masa depan?
Dengarkan di Apple Podcasts, Spotify, atau di mana pun Anda mendapatkan podcast.
Bagian 1: Siapa Orang Salmon dari Arktik?
Temui Aslat Holmberg, seorang nelayan Sámi, di tepi sungai Deatnu yang membentuk perbatasan antara Norwegia dan Finlandia di Arktik. Dia berbicara tentang bagaimana salmon telah menjadi dasar komunitasnya dan membentuk mata pencaharian semua orang yang tinggal di sana.
Selanjutnya, dengarkan Deenaalee Chase-Hodgdon, seorang nelayan Deg Xit’an Dene, Sugpiaq, dan Yup’ik dari Alaska. Mereka berbagi bagaimana budaya mereka begitu terkait dengan salmon, termasuk pakaian mereka, hubungan satu sama lain, dan bahkan nama-nama bulan/musim dalam bahasa asli mereka.
Bagian 2: Krisis salmon
Ilmuwan Jaakko Erkinaro menjelaskan bahwa salmon tidak kembali ke sungai Deatnu, dan faktor-faktor yang mungkin menyebabkan hal ini.
Aslat dan Deenaalee berbagi bagaimana – bahkan di ujung berlawanan Arktik dengan spesies salmon yang berbeda – krisis salmon memengaruhi komunitas mereka dari perspektif ekonomi, budaya, dan keamanan pangan.
Bagian 3: Keamanan pangan dan kedaulatan dalam Arktik yang berubah
Bagaimana krisis salmon memengaruhi keamanan pangan dan kedaulatan di Arktik? Dan apa perbedaan antara kedua konsep tersebut? Aslat dan Deenaalee menjelaskan dampaknya dalam komunitas mereka, dan bagaimana krisis ini tidak hanya tentang makanan di meja, tetapi juga tentang identitas.
Bagian 4: Bagaimana mengelola krisis salmon. Siapa yang memutuskan jalan ke depan?
Kami menjelajahi bagaimana spesies salmon baru di sungai Deatnu telah menciptakan kesempatan bagi penduduk setempat untuk beradaptasi dalam Arktik yang berubah. Namun, perselisihan tentang bagaimana spesies baru ini harus dikelola telah menciptakan ketegangan antara komunitas lokal, ilmuwan, dan otoritas negara.
Haruskah spesies invasif yang dapat mengubah ekosistem dihapus? Atau apakah itu bisa menjadi kesempatan untuk membangkitkan kembali budaya, ekonomi, dan komunitas? Yang penting – siapa yang berhak memutuskan, dan berdasarkan informasi apa?
Episode ini juga membahas bagaimana ilmu pengetahuan dan Pengetahuan Pribumi dapat bersama-sama untuk menginformasikan solusi terbaik.
Dengarkan dan berlangganan di semua platform podcast.





