Beranda Indonesia Aturan Baru Pariwisata Bali: Apa yang Perlu Diketahui Wisatawan

Aturan Baru Pariwisata Bali: Apa yang Perlu Diketahui Wisatawan

59
0

Bali, Indonesia, sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Asia Tenggara, telah mempertimbangkan regulasi baru yang dapat sangat memengaruhi pengunjung asing. Pemerintah daerah Bali telah sedang meninjau legislasi baru yang mewajibkan pengunjung asing untuk mendeklarasikan saldo bank mereka selama tiga bulan terakhir, itinerary mereka, dan durasi tinggal mereka di destinasi pulau Bali, di antara hal-hal lainnya, dalam upaya untuk mengelola dengan hati-hati jumlah pengunjung yang membanjiri destinasi pulau Bali di Indonesia.

Peraturan baru, yang merupakan bagian dari Rancangan Peraturan tentang Manajemen Pariwisata Berkualitas Tinggi, saat ini sedang ditinjau oleh dewan provinsi. Peraturan tersebut bertujuan untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pariwisata massal, terutama dengan kepopuleran pulau tersebut. Bali, yang sebelumnya sudah menyambut jutaan wisatawan sebelum pandemi, telah melihat kebangkitan pariwisata, dengan jumlah pengunjung asing meningkat lebih dari 20% hanya pada tahun 2024. Di antara para pengunjung ini, wisatawan Tiongkok menyumbang sebagian besar, menandai kembalinya signifikan setelah pembatasan perjalanan pandemi.

Aturan yang diusulkan ini, bagaimanapun, diperkirakan akan memiliki dampak paling langsung bagi para wisatawan dari Tiongkok. Dikenal karena proses visa-on-arrival yang relatif sederhana, pengunjung Tiongkok dapat menghadapi keterlambatan dan ketidaknyamanan yang signifikan akibat langkah-langkah baru ini. Persyaratan untuk mengungkapkan rincian keuangan dan itinerary yang rinci dapat menyebabkan waktu tunggu yang lama di bandara, yang mungkin menambah beban pada operasi bandara yang sudah terganggu.

Bali telah lama menjadi destinasi populer bagi wisatawan Tiongkok, dan pada tahun 2024, jumlah pengunjung Tiongkok melonjak lebih dari 60%. Meski terjadi peningkatan jumlah, pengeluaran total oleh wisatawan Tiongkok tetap jauh di bawah level pre-pandemi, dan banyak dari mereka kini mengunjungi Bali dalam perjalanan yang lebih singkat dan hemat biaya. Perubahan dalam perilaku pengeluaran ini berarti bahwa Bali tidak lagi melihat manfaat ekonomi yang sama dari pengunjung Tiongkok seperti dulu.

Sementara regulasi baru dimaksudkan untuk mempromosikan pariwisata ‘berkualitas tinggi’, para ahli industri berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut dapat membikin malas pengunjung yang Bali butuh untuk mendukung ekonominya. Birokrasi yang meningkat dan kemungkinan pemeriksaan acak di titik masuk mungkin mengurangi daya tarik pulau bagi wisatawan Tiongkok, yang mungkin terbendung oleh tumpukan tambahan kertas dan telaah.

Industri pariwisata Bali telah berjuang untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan tantangan yang ditimbulkan oleh keramaian. Pulau ini menerima 29 juta pengunjung pada tahun 2024, hampir tujuh kali lipat dari jumlah penduduknya. Namun, lonjakan besar wisatawan ini tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang diantisipasi. Bahkan, pertumbuhan ekonomi melambat sedikit dari 5,7% pada tahun 2023 menjadi 5,5% pada tahun 2024, menandakan bahwa industri pariwisata pulau ini mungkin sudah mencapai batasnya dalam hal kapasitas.

Meskipun volume tinggi wisatawan mungkin tampak menjanjikan pada pandangan pertama, itu telah menyebabkan tekanan yang lebih besar pada infrastruktur, layanan publik, dan sumber daya alam Bali. Jumlah turis yang hemat biaya, seperti digital nomad dan backpacker, telah menambah tekanan, karena pengunjung ini cenderung tinggal lebih lama dan mengeluarkan lebih sedikit di pulau. Selain itu, masuknya wisatawan jangka panjang yang tidak berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi lokal lebih memperburuk situasi.

Regulasi baru tampaknya menjadi upaya untuk mengelola lonjakan ini lebih efektif, menargetkan wisatawan yang mampu tinggal untuk durasi yang lebih singkat, dengan kapasitas pengeluaran yang lebih tinggi, dan dengan perilaku yang lebih mudah diprediksi dan dikendalikan. Wisatawan ‘berkualitas tinggi’ ini akan memiliki keamanan keuangan, lebih sedikit kemungkinan untuk melebihi visa mereka, dan lebih sejalan dengan kebutuhan industri pariwisata Bali, yang semakin fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan mudah dikelola.

Aturan yang diusulkan dapat membentuk ulang perilaku wisatawan, terutama di antara mereka yang biasa dengan pengalaman perjalanan yang lebih langsung dan tanpa masalah. Wisatawan asing, khususnya dari Tiongkok, mungkin memilih destinasi alternatif jika aturan baru menambah terlalu banyak kompleksitas pada rencana perjalanan mereka.

Meskipun kemungkinan ditolak masuk tetap rendah, ketidakpastian tambahan dapat membikin malas calon wisatawan, terutama mereka yang menghargai kenyamanan. Peraturan baru juga dapat mendorong wisatawan untuk memikir ulang rencana perjalanan mereka, durasi tinggal, dan destinasi, yang dapat menggeser fokus pariwisata Bali menuju profil pengunjung yang lebih eksklusif dan lebih terkendali.

Kebijakan pariwisata Bali mengalami pergeseran. Fokusnya bukan lagi hanya pada menarik jumlah besar wisatawan tetapi pada menarik pengunjung yang ‘tepat’. Aturan baru, meskipun masih dalam tinjauan, mewakili upaya untuk menyeimbangkan pariwisata dengan keberlanjutan, memastikan bahwa Bali dapat terus menjadi destinasi wisata papan atas tanpa menghancurkan infrastrukturnya dan layanan publiknya.