Beranda Indonesia Indonesia menekankan kesiapan, kewaspadaan, realisme dalam diplomasi di tengah ketertiban global yang...

Indonesia menekankan kesiapan, kewaspadaan, realisme dalam diplomasi di tengah ketertiban global yang rapuh

63
0
Indonesia menekankan kesiapan, kewaspadaan, realisme dalam diplomasi di tengah ketertiban global yang rapuh
Tangkapan video ini menunjukkan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono saat memberikan konferensi pers di Jakarta, Indonesia, 14 Januari 2026. (Foto oleh Wayan/Xinhua)

JAKARTA, 15 Januari (Xinhua) — Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengatakan pada hari Rabu bahwa diplomasi Indonesia harus dibangun dengan kesiapan, kewaspadaan, dan realisme, karena tatanan global saat ini semakin rapuh dan dunia memasuki “zona abu-abu” berbahaya yang ditandai oleh persaingan yang semakin tajam, fragmentasi yang lebih dalam, dan batas yang kabur antara perdamaian dan konflik.

Berbicara pada konferensi pers tahunan 2026 di Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Sugiono mengatakan kepentingan nasional yang sempit mengungguli keamanan kolektif, sedangkan hukum internasional yang selama ini dianggap sebagai pijakan kestabilan global disalahgunakan dan sering dilanggar tanpa konsekuensi.

“Ketika aturan yang disepakati bersama dilanggar tanpa pertanggungjawaban, yang runtuh bukan hanya satu aturan, melainkan juga kepercayaan pada seluruh tatanan itu sendiri,” katanya.

Sugiono menyoroti bahwa mekanisme pengelolaan krisis yang ada di tingkat global kesulitan mengikuti perubahan realitas geopolitik yang cepat. Dia menambahkan bahwa beberapa negara kunci telah mundur dari tanggung jawab global mereka, sehingga lebih melemahkan kerjasama internasional.

Menurutnya, lanskap global bergerak menuju persaingan yang lebih tajam dan fragmentasi yang lebih dalam, ditandai oleh saling ketergantungan ekonomi dan pengaruh yang semakin besar dari aktor non-negara.

Di tengah latar belakang ini, Sugiono menekankan bahwa negara-negara yang tidak memiliki strategi yang jelas berisiko terbawa oleh gejolak global. Indonesia, katanya, tidak boleh termasuk dalam kategori itu.

“Kita harus melihat dunia sebagaimana adanya, keras, kompetitif, dan semakin tidak terduga,” katanya, menambahkan bahwa diplomasi Indonesia harus berlandaskan pada kesiapan, kewaspadaan, dan realisme untuk melindungi kepentingan nasional dan ketahanan.
â–