Peluang Swasembada Berpeluang Sukses

Peluang Swasembada Berpeluang Sukses

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Bandung - Peluang swasembada beras dan jagung pada tahun 2017 yang dicabangkan oleh pemerintahan Jokowi-JK sangat berpeluang berhasil bila politik anggaran untuk sektor itu mendukung, kata Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jabar Entang Suriaatmadja di Bandung Kamis (29/1/2015).

"Untuk swasembada beras dan jagung sangat memungkinkan dicapai, namun untuk kedelai cukup berat," kata Entang.

Ia menyebutkan, alasan peluang swasembada beras bisa dicapai karena Indonesia telah memiliki sejarah mampu melakukannya pada tahun 1984 pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

Sedangkan swasembada jagung sangat potensial, karena tingkat produksi jagung nasional yang cukup besar.

"Kedelai yang menjadi masalah, untuk swasembada cukup berat. Kedelai adalah tanaman sub tropis sehingga kurang bagus dikembangkan di iklum tropis. Namun semangat peningkatamn produksi perlu terus dipupuk," katanya.

Lebih lanjut, Entang menyebutkan target swasembada itu perlu didukung pemerintah seara serius dengan memberikan anggaran yang memadai untuk sektor pertanian.

Ia menyebutkan, untuk mencapai swasembada itu harus berkaca atas keberhasilan tahun 1980-an. Pemerintah memulai revolusi hijau paa tahun 1970an dengan memaksimalkan upaya produksi padi.

Anggaran difokuskan untuk mengembangkan pertanian, pembangunan irigasi, pembangunan balai benih dan juga menjamin ketersediaan dan pendistribusian pupuk.

Gerakan swasembada juga dilakukan serentak mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah. Bupati melaporkan pencapaian produksi kepada pemerintah pusat setiap tiga bulan sekali.

"Program swasembada beras kala itu digulirkan sangat ketat, dikotrol penuh. Bahkan kepala daerah yang dianggap tidak mampu mencapai swasembada harus rela lengser," katanya.

Sementara itu dari sisi teknologi, Indonesia cukup bagus dan diakui. Bahkan pada masa lalu sejumlah negara di ASEAN belajar pertanian ke Indonesia.

"Saya kira evaluasi tentang kegagalan mencapai swasembada beras tahun 2014 harus dievaluasi dan menjadi bahan untuk perbaikan program berikutnya. Jadi jangan bikin program tanpa memperhitungkan dan berkaca dari kegagalan sebelumnya," kata Entang.

Selain itu, upaya mempertahankan produksi yang sudah surplus juga perlu. Ia mencontohkan Jabar yang selalu selalu surplus 2-3 juta ton beras setiap tahun. Namun surplus beras itu digunakan untuk provinsi yang mengalami defisit beras.

"Cuaca ekstrem menjadi kendala utama padi, dan itu harus diperhatikan karena bisa berdampak pada penurunan produksi akibat hama, banjir maupun longsor," kata Entang Suriaatmadja menambahkan. (AY)

.

Categories:Info Bisnis,
Tags:bandung,