Aparat Negara Punya Mental "Ewuh Pakewuh"

Aparat Negara Punya Mental

Ilustrasi Foto.(Net)

Cimahi- Kisruh antara dua lembaga hukum Indonesia yaitu KPK dan POLRI menuai banyak komentar dari pengamat politik dan ketatanegaraan dari beberapa daerah. Salah satunya pengamat politik dari Kota Cimahi.
 
Lukman, seorang pengamat dan praktisi pendidikan ilmu politik dari Cimahi turut memberikan pendapat tentang kisruh KPK dan POLRI.
 
“ Perseteruan antara KPK dan POLRI adalah hal yang luar biasa di ranah perpolitikan nasional yang terjadi di awal tahun 2015,” tutur Lukman saat berbincang di tempat kerjanya, Kamis (29/1), Cimahi.
 
Dirinya berpendapat bahwa kisruh antara KPK dan POLRI berkaitan erat dengan etika politik Negara. Dalam hal ini Lukman menilai bahwa aparat Negara masih memiliki mental “Ewuh Pakewuh” atau suatu kondisi yang penuh kesungkanan.
 
“ Proses penegakan hukum tidak mengenal “Ewuh Pakewuh” atau saling sungkan. Dalam hal ini Pemimpin Negara harus memiliki sikap yang tegas, untuk ke-ajeg-an hukum dan menentukan garis tengah yang jelas antara koridor kerja KPK dan POLRI,”tuturnya.
 
Lukman menambahkan apapun kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah tentang KPK dan POLRI akan selalu menimbulkan pro dan kontra, akan tetapi hal tersebut adalah aksi yang harus diambil.
 
“ Kalau dari pandangan saya, konflik politik maupun perubahan-perubahan kebijakan ibarat kue           ( cemilan) Demokrasi, di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, bongkar pasang kebijakan dan institusi adalah hal yang wajar,” paparnya.
 
“ Satu hal yang harus selalu diingat oleh aparatur Negara bahwasanya fitrah dari penyelenggaraan Negara adalah menciptakan kondisi ideal bagi masyarakatnya. Dengan prinsip-prinsi dasar kerja aparat Negara yaitu Pelayanan terhadap masyarakat yang harus jadi keadilan rakyat, Pembangunan  yang bisa memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dan Pemberdayaan yang harus menumbuhkan kemandirian masyarakat Indonesia,” pungkas Lukman.(Ode)**
.

Categories:Politik,
Tags:politik,