Kemenkominfo Tangkap Tiga Operator Gelap

Kemenkominfo Tangkap Tiga Operator Gelap

ilustrasi. (Net)

Jakarta- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengumumkan telah menangkap tiga operator gelap yang menyalahgunakan trafik terminasi internasional (saluran internasional) dari luar negeri ke Indonesia.

"Akibat ulah mereka industri telekomunikasi berpotensi merugi Rp1,26 triliun per tahun," kata Direktur Jenderal Penyelenggaran Pos dan Informatika Kemenkominfo Kalamullah Ramli dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/2/2015).

Ketiga operator gelap tersebut beroperasi di Indramayu, Bogor dan Jakarta. Penangkapan tersebut mengawali penertiban penyelenggaraan trafik terminasi internasional pada 2015 ini.

Tim yang terdiri dari Kemenkominfo, Penyidik PNS Balmon Kelas I Jakarta, Penyidik PNS Balmon Kelas II Bandung, Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus Polda Metro Jaya dan operator telekomunikasi bergerak cepat setelah laporan terjadinya kejanggalan penggunaan trafik internasional oleh operator.

"Ada yang trafiknya turun tak wajar sehingga ada kecurigaan, dengan menggunakan alat tertentu untuk mendeteksi akhirnya dapat kita tangkap," katanya.

Ia mengatakan, dalam sebulan para operator gelap tersebut dapat meraup pendapatan sebesar 25 ribu dolar lebih per bulan dari satu partner kerjasama mereka di luar negeri.

Atas pelanggaran tersebut, operator gelap itu akan dijerat dengan pasal 11 ayat (1), Pasal 22 dan pasal 32 ayat (1) UU 36/1999 tentang Telekomunikasi dengan hukuman maksimal enam tahun dan atau denda paling banyak Rp600 juta.

Kalamullah menambahkan, operasi penertiban trafik terminasi internasional akan terus digalakan guna menciptakan ketertiban penyelenggaraan telekomunikasi, menjamin kepastian hukum dan kepastian berusaha penyelenggara telekomunikasi dan menjamin kualitas telekomunikasi.

Sementara itu, Anggota Tim Penertiban Mikhail Adiguna menjelaskan, para operator gelap tersebut bekerjasama dengan partnernya dari luar negeri untuk mengubah panggilan internasional dari manca negara, menjadi penggilan lokal dengan menggunakan nomor lokal. Akibatnya biaya internasional melakukan panggilan telpon dari luar negeri ke Indonesia menjadi biaya lokal.

"Jadi misalnya kalau kita menerima telpon kerabat dari luar negeri, tapi kok nomernya lokal, nomer-nomer Indonesia, nah itu berarti ada operator gelap yang beroperasi. Nomer itu juga tidak bisa ditelpon balik dari Indonesia," katanya.

Para operator tersebut tidak menggunakan jalur resmi saluran internasional, namun dengan menggunakan teknologi dan alat tertentu mengalihkannya ke dalam trafik yang mereka ciptakan sendiri.

Secara singkat, panggilan dari luar negeri ditangkap oleh operator partner di luar negeri, kemudian di teruskan ke Indonesia dengan menggunakan internet untuk disalurkan ke operator gelap yang kemudian mengalihkannya menjadi nomor lokal melalui alat simbox sebelum diteruskan ke nomor tujuan.

Penggunaan teknologi ini biasanya memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan saluran internasional resmi. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:misteri,