Guntur Hanya Terkulai Lemah

Guntur Hanya Terkulai Lemah

Guntur Febriansyah.(foto:detik)

Bandung - Guntur bocah berusia 8 tahun pada 16 Februari 2015 mendatang, tampak  terkulai lemah di dalam rumah sederhana di Gang Budi V No. 31 RT 04, RW 03 Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung.

Guntur Febriansyah sudah mengidap penyakit yang hingga saat ini belum diketahui jenisnya oleh keluarganya. Tampak kaki, tangan dan tubuh Guntur mengecil, serta tidak bisa digerakkan. Selain tubuh yang melemah, penyakit tersebut menjadikan Guntur bisu.

Dalam keadaan lumpuh tak berdaya Ibunya, Nurhayati, meninggal dunia karena sakit paru-paru yang dideritanya. Belum lama sepeninggal ibunya, selang 7 hari kemudian ayah Guntur,  Dadan tiba-tiba menghilang tak berbekas tanpa kabar.

Ayah kandungnya menelantarkan Guntur bersama kakek dan neneknya. Praktis tanggungjawab merawat guntur dibebankan kepada orangtua ibunya.

Tidak habis-habisnya guntur menjalani cobaan. Setelah ditinggal orangtua kandung, kakek dan neneknya juga meninggal. Jika neneknya tutup usia lima tahun lalu, sang kakek baru 100 hari lalu dimakamkan.

Hingga akhirnya Kokom (55), adik dari neneknya kini menjadi orang paling setia berada di samping Guntur setiap saat.

"Dulu masih bisa jalan dan sempat bisa ngomong juga, tapi setelah diterapi di rumah sakit badannya panas lagi. Setelah itu malah enggak  bisa bicara, enggak bisa jalan, tangan enggak bisa gerak juga, lemas semua," ungkap Kokom.

Saat nenek dan kakek Guntur masih hidup, Kokom memang lebih banyak turun tangan merawat. Maka dari itu, Kokom lebih banyak mengetahui kondisi bocah laki-laki yang terlahir normal dengan bobot 2,7 kilogram tersebut.

Pernah juga sekali waktu Guntur dibawa berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk memastikan jenis penyakitnya.

"Kalau kata dokter ada gangguan cairan otak. Saya enggak tahu apakah kepalanya pernah terbentur atau tidak," jelasnya.

Meski murah senyum, Guntur seringkali mengeluh. Yang pertama, setiap ingin buang air besar, bocah ini selalu merasakan sakit sampai harus menjerit. Maklum, selain susah makan, Guntur juga jarang BAB. Kadang dia BAB hanya dua minggu sekali.

"Guntur juga sering kaget bahkan sampai nangis kalau dengar suara bersin atau batuk yang keras. Kalau ada yang marah-marah juga kaget," ujarnya.

Di sini, terlihat Kokom begitu sabar dan ikhlas merawat Guntur. Tapi dengan kondisi tubuh yang semakin lama digerogoti usia, Kokom mengaku sedikit kewalahan. Apalagi saat ditemui Kokom juga tengah sakit badan. Dengan berat tubuh Guntur saat ini mencapai 10 kilogram lebih, Kokom tidak lagi bisa menggendong Guntur dalam waktu lama. Selain itu, masalah biaya juga dirasakannya semakin berat.

 "Yah, kalau memang ada bantuan cuma ingin Guntur bisa jalan lagi bisa normal lagi. Setiap bulan ada bantuan Rp. 300.000 dari Dinsos. Tapi cukup apa atuh pak, untuk popoknya saja kurang. Belum lagi kalau berobat," tutunya. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,