Pesawat Terbang Fiber Punya Nilai Jual Tinggi

Pesawat Terbang Fiber Punya Nilai Jual Tinggi

Aneka replika pesawat terbuat dari bahan fiber. (Foto : ADE)

Bandung - Jika PT. Dirgantara Indonesia hidupnya kembang kempis, ada yang menarik dan unik dari ragam jenis pesawat terbang. Jika PT. Dirgantara belum mampu beranjak dan membuat pesawat terbang sungguhan dengan berbagai tipe dan jenis, kini orang bisa mengoleksi berbagai jenis pesawat terbang dari berbagai maskapai di seluruh dunia.

 

Tentu saja bukan pesawat asli melainkan hanya miniatur pesawat. Jenis pesawat “mainan” ini sebenarnya sudah masuk Indonesia sekitar tahun 1990-an. Namun seiring perkembangan, hasil karya miniatur pesawat ini mulai memasyarakat sekitar tahun 2000-an. Seperti yang terlihat pada Pameran Kerajinan Jawa Barat beberapa waktu lalu. CikalNews.com sempat mengunjungi salah satu stand pameran yang menampilkan kerajinan miniatur pesawat terbang.    

 

Dari stand ini CikalNews mendapat penjelasan sekelumit tentang miniatur pesawat langsung oleh pengrajinnya Hadi Wijayanto. Dia adalah pengrajin sekaligus pengelola “Papatong Aircraft Models & Souvenir” yang terletak di Cengkareng, Cikarawang, Kabupaten Bogor Jawa Barat.

 

Hadi menjelaskan beberapa teknik membuat miniatur pesawat yang dibuat dari bahan fiber. Teknik pembuatannya, pertama membuat dulu cetakan yang bentuknya sama persis dengan pesawat aslinya, tentu saja bentuknya lebih kecil dari aslinya.

 

“Selanjutnya menuangkan cairan fiber pada cetakan tersebut dan tunggu sampai kering sekitar 10 menit. Hasil cetakan tersebut diampelas hingga halus, baru setelah proses finishing melalui pengecatan dengan tehnik airbrush. Dari lama pembuatan, membuat satu atau seratus sama saja,” ujarnya saat dijumpai belum lama ini.

 

Hadi menuturkan, produk dianggap gagal jika setelah di cat muncul gelembung-gelembung dari badan pesawat.

 

Artinya pembuatan pesawat itu salah sejak awal, baik pencetakan atau pun pengampelasan. Biasanya kesalahan baru terlihat jika sudah beres,” ungkap Hadi.

 

Semakin kecil bentuk pesawat, proses pembuatannya semakin sulit. Ia juga menceritakan pengalamannya saat membuat miniatur pesawat Boeing 747 transparan dari fiber tertutup dan fiber bening. Dengan ukuran 2 meter lebih, dia harus buat detail bentuk dalamnya mulai bangku, dapur, kokpit yang semuanya di buat sama persis dengan aslinya.

 

Proses pembuatannya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan. Yang tersulit adalah saat finishing. Kalau replica yang memiliki ukuran besar, jika ada kesalahan sedikit pasti kelihatan. Kita harus benar-benar teliti,” jelasnya.

 

Proses finishing adalah proses pengecatan dengan menggunakan airbrush. Pengerjaannya semakin sulit apabila warnanya semakin banyak. Hingga saat ini, hasil kerajinannya sudah diekspor ke Amerika, Afrika, Arab, Jerman, Swiss, Australia, dan New Zealand. Pembeli juga bisa memesan lewat internet melalui ebay.

 

Kalau pesan lewat email, kita negosiasi dulu. Seandainya deal, begitu pembayaran diterima baru kita kirim barangnya. Hadi juga pernah membuat miniatur pesawat untuk di dashboard mobil, pesawat kecil, gendut pake topi pilot, seperti di film kartun.

Hingga saat ini Hadi telah merekrut sekitar 25 orang pegawai untuk menjalankan usahanya. Kalau pekerja lepas, jumlah tenaganya tergantung orderan.

 

“Kalau order banyak, otomatis mencari anak buah. Mereka ajarkan tehniknya hingga tidak sedikit yang mampu mandiri,” jelas Hadi.

 

Kisaran harga miniatur pesawat buatannya rata-rata di jual Rp. 350.000,- sampai Rp. 15.000.000,-. Berbeda dengan jenis helikopter yang lekukannya lebih banyak dan proses pembuatannya lumayan lama, harganya di jual lebih mahal, sekitar Rp. 750.000,-. Apalagi untuk pesawat tempur yang tingkat kesulitannya tinggi, di jual lebih mahal lagi. Selain bahan baku fiber kerajinan pesawat ini juga menggunakan bahan baku limbah furniture untuk dudukannya.(Ode)**

.

Categories:Ekonomi,