Pasar Beras Dikuasai Delapan Pemain Berskala Besar

Pasar Beras Dikuasai Delapan Pemain Berskala Besar

Ilustrasi.(Foto:Net)

Jakarta - Pasar komoditas beras sudah sejak dari dulu dikuasai oleh pemain besar, yang rawan melakukan penimbunan hingga menyebabkan harganya melambung tinggi.
Menurut Ekonom dari IPMI International Business School, Jimmy M Rifai Gani, setidaknya ada sekitar lima sampai delapan pedagang beras berskala besar yang mampu mempengaruhi harga beras nasional.
 
"Jika pemain beras berskala besar itu berkolusi dan menahan distribusi beras ke masyarakat, secara otomatis pasar akan terpengaruh. Harganya bisa naik signifikan," kata Executive & CEO IPMI itu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2).
 
Jimmy menyatakan, pemerintah tampaknya belum perlu melakukan impor beras karena stok beras di Bulog cukup untuk menstabilkan harga di pasaran. Terlebih impor komoditas beras akan merugikan harga di tingkat petani, dan memperlemah daya saing beras lokal.
 
Kalaupun mesti mendatangkan beras dari luar negeri, lanjutnya beras yang diimpor hanya untuk keperluan tertentu dan jenis produknya tidak bisa dihasilkan di Tanah Air.
"Sarinah juga importir beras. Namun beras yang diimpor Sarinah jenisnya khusus, seperti Japonica Rice asal Jepang untuk pasar terbatas. Beras ini berbeda dengan yang dikonsumsi masyarakat umum dan jenisnya tidak ada di Indonesia," tandasnya.
 
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menuding ada mafia beras yang menyebabkan harga melonjak hingga 30 persen di Jakarta. 
 
Menteri Rachmat pun kemudian meminta Direktur Utama Perum Bulog menyetop distribusi beras di sejumlah pasar, yang janggal dalam menetapkan harga ke konsumen. 
Harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang sempat menyentuh Rp 12.000/kg, padahal hitungan Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog seharusnya dijual Rp 7.400/kg. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,