Semangat Poltik Kaum Muda Belum Tersalur Optimal

Semangat Poltik Kaum Muda Belum Tersalur Optimal

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Potensi muda terhadap partai politik tidak tersalurkan optimal karena kultur politik masih mesianisme, kata pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Indonesia Karim Suryadi.

"Partai masih mengandalkan tokoh atau ikon partai, atau disebut mesianisme politik. Tokoh itu dibuat seolah mengayomi atau meredam konflik, sehingga bisa memengaruhi masyarakat", kata Karim Suryadi pada diskusi "Regenerasi Publik, Mandek?" di Bandung, Senin (2/3/2015).

Selain kultur politik, kata Karim, kemunculan tokoh nasional di media massa nasional memengaruhi terhambatnya generasi muda terjun dalam politik.

"Kebanyakan publik mengungkap tokoh yang muncul, selain tokoh nasional juga muncul di televisi nasional", kata Karim.

Menurut Karim, kemampuan generasi muda dalam berpolitik akan memperbaiki kesehatan dalam berpolitik.

"Tidak mudah generasi muda naik, usia legislatif sekarang 30 hingga 40 tahun tidak bisa dihindari. Namun kepemimpinan di parpol harus sehat, muda dibutuhkan, yaitu pemikiran ijtihadi, muda bukan hanya biologis, tapi muda dalam pemikiran", katanya.

Semangat muda tidak tersalurkan, kata Karim, menjadi ungkapan kepedulian sosial.

"Banyaknya ungkapan kepedulian sosial, seperti banyaknya lembaga kemahasiswaan seperti BEM, hingga gencarnya opini politik di media sosial", katanya.

Sementara Lembaga Survei Indonesia (LSI) melakukan survei tentang fungsi, dampak politik terhadap kaum muda, dan bagaimana kepemimpinan di mata pemilih politik.

Kepala Lembaga Survei Indonesia (LSI) Hendra Prasetyo memaparkan aspirasi Jawa Barat terhadap kepemimpinan dalam parpol mencapai 72,7 persen, untuk regenerasi pemimpin partai 50,1 persen.

Menurut dia, secara teoritis, dimensi afeksi dan identifikasi menjadi dimensi besar yang menghubungkan pemilih dan partai politik.

"Komponen psikologis di mana seseorang merasa bahwa partai tertentu adalah identitas politiknya, juga adanya dimensi intermediasi partai merupakan evaluasi massa pemilih tentang fungsi politik bagi publik", kata Hendra Prasetyo.

LSI melakukan survei pada seluruh warga Indonesia yang telah punya hak pilih dalam pemilihan umum, dari 17 tahun ke atas dengan jumlah sampel 1.220 responden, dengan tingkat kepercayaan 95 persen yang dilakukan pada 10 hingga 18 Januari 2015. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,