Buntut Kasus Salah Suntik Izin Kalbe Farma Dicabut

Buntut Kasus Salah Suntik Izin Kalbe Farma Dicabut

Foto Ilustrasi.

Jakarta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan PT Kalbe Farma bersalah, sehubungan dengan kasus salah suntik terhadap dua pasien Rumah Sakit Siloam Karawaci Tangerang, pada Februari lalu. Sebab, dalam proses produksi injeksi Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat terjadi mix-up.
Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Sparingga, mix-up produksi kemungkinan terjadi pada area sekunder. Saat itu, pihaknya telah melakukan inspeksi ke PT Kalbe Farma, selaku produsen obat dan PT Enseval Putera Mega selaku distributor.
 
"‎Usai dilakukan inspeksi sistematis yang dilakukan BPOM, ada beberapa potensi mix-up yang terjadi. Potensi kejadian mix-up terjadi khususnya di area pengemasan sekunder, terutama di bagian visual inspection diproduksi line 6 khusus produksi injeksi," kata Roy saat temu media di Gedung Kementerian Kesehatan RI Kuningan, Jakarta, Senin (23/3).
Di dalam line tersebut, terdapat 26 produk khusus injeksi yang diproduksi oleh PT Kalbe Farma, termasuk jenis Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat. Kemungkinan dalam produksi itu terjadi proses salah pelabelan pada kemasan sekunder, sebelum labeling antara dua produk yang menyebabkan pasien meninggal dunia.
 
Lewat kasus tersebut, BPOM sudah memberikan sanksi kepada PT Kalbe Farma selaku produsen, berupa pencabutan izin edar dan berhenti berproduksi. Ini berlaku untuk seluruh produk injeksi yang ada di line 6, khusus produksi milik‎ PT Kalbe Farma yang sifatnya sementara.
"Dalam rangk menghilangkan potensi risiko, BPOM memerintahkan untuk menghentikan pendistribusian terhadap produk line 6. Jadi, tidak mendi‎stribusikan seluruh produk yang belum beredar, dan memusnahkan seluruh produk yang sudah diproduksi," tambah Roy.(Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:kesehatan,