Rya Fitria "KDI" Eksis di Dangdut dan Pop Sunda

Rya Fitria

Rya(tengah) bersama Tim Ngopsor Cikalnews di Eduplex cafe, (RZL)

BLANTIKA musik dangdut belakangan tengah naik daun. Setidaknya ditandai dengan adanya ajang lomba pencarian bakat melalui televisi. Simak saja dua stasiun televisi nasional saat ini, MNC TV dan Indosiar giat menggelar ajang pencarian bakat di dunia musik dangdut. Sebelumnya, ajang ini juga sudah menyeleksi puluhan ribu peserta di beberapa kota di Indonesia termasuk Kota Bandung, sebelum akhirnya mereka dengan bangga bisa menjadi duta daerah asalnya.
 
Untuk menjadi penyanyi dangdut sekaligus menjadi artis, kini sudah tak susah-susah lagi mengadu nasib ke Jakarta, untuk menawarkan kemampuan vokal pada para produser rekaman. Hal itu sebagaimana pengalaman para penyanyi sebelumnya, yang kini sudah terkenal. Sebut saja generasi artis Iis Dahlia, Evie Tamala, Ikke Nurjanah, Cici Paramida, Ira Swara, Kristina, Inul Daratista serta banyak lagi. Mereka ini masing-masing memiliki pengalaman sendiri, mengenai pahit dan manisnya untuk bisa meraih kesempatan menjadi penyanyi terkenal hingga saat ini.
 
Lewat ajang lomba pencarian bakat,  ajang ini memberi kesempatan kepada siapa saja untuk meraih popularitas, sekaligus meraup rezeki dengan cepat  yang disaksikan oleh masyarakat. Paling tidak, penonton ikut terlibat untuk memilih melalui voting SMS.  Hasilnya, tentu sang calon artis bisa menjadi penerus artis dangdut ternama di kemudian hari.    
 
Untuk bisa menjadi peserta yang diundang tampil ke Jakarta saja, bisa dikatakan kesempatan emas itu sudah luar biasa. Apalagi menjadi bagian dari finalis, atau bahkan kelak menjadi juara? Untuk mengetahui bagaimana lika-liku pengalaman para peserta dangdut yang terlahir lewat ajang lomba, Cepi Juniar Djatnika (Pemred CikalNews.com) dan Wa Ode Ratna Djuwita (Redaktur), sengaja menghadirkan Peserta Audisi KDI (Kontes Dangdut Indonesia) ke-3 tahun 2006, Rya Fitria KDI, yang pernah mengikuti ajang lomba ini di MNC TV. Dulu dikenal dengan nama TPI, satu-satunya chanel televisi yang pada waktu itu menggelar ajang KDI dengan sukses. Kini Rya juga sudah banyak merampungkan album dangdut serta pop Sunda.
 
 
 
Jauh sebelum menyentuh dangdut dan pop Sunda, Rya pun dikenal sebagai salah seorang qoriah terbaik di tingkat Jabar. Prestasinya sebagai qoriah terbaik sempat diraihnya beberapa kali. Kini wanita kelahiran Bandung, 10 Juni 1985 ini lebih dikenal sebagai penyanyi dangdut, sekaligus penyanyi pop Sunda. Berikut petikan wawancaranya.
 
CikalNews.com (CN):  Apa kabar Rya? Kian sibuk aja ya, apalagi saat ini dangdut tengah merebak di televisi? 
 
Rya Fitria (Rya): Kabar baik nih, baru pulang "ngamen" dari Tasik, nyetir sendiri lho (tertawa). Dengan hadirnya ajang lomba di televisi memang bagus banget. Tadinya kita yang bukan siapa-siapa menjadi dikenal, itu kan luar biasa tahapannya. Zero to hero. Juga kelak akan melahirkan regenerasi dangdut di masa mendatang.
 
CN: Banyak segi positifnya dong ya mengenai pencarian bakat di televisi. Bisa dikisahkan bagaimana tahapan menjadi peserta audisi hingga bisa tampil sebagai finalis? Garis besarnya saja.
 
Rya: Positif banget, siapapun yang mengikuti ajang lomba lewat televisi, setidaknya akan banyak menyerap ilmu dari para juri atau seniornya, untuk peserta dan juga pemirsa. Para juri benar-benar mentransfer ilmunya buat kepentingan peserta. Secara tidak langsung, kita juga penonton ikut mengetahui rahasia bagaimana menyanyi dengan baik.
 
Ivan Gunawan misalnya, dia sangat lugas ketika menerangkan bagaimana cara berbusana, tampil dengan make up panggung, sesuai usia peserta, dibuka secara blak-blakan. sebagai penonton, kita juga ikut tahu cara berbusana yang baik, itu sisi positifnya.
Sedangkan untuk mengikuti ajang lomba di televisi, standar ya. Awalnya dengan mendaftar pada saat ada pembukaan dan ikut test. Kalau lolos, siap-siap ke Jakarta. Zaman saya dulu di KDI (2006) selama 6 bulan ikut karantina. Di dalam kita digodok untuk segalanya, olahraga untuk pernapasan, latihan nyanyi, menghapal lagu, koreografi, dan juga didatangkan guru vokal. 
 
Pokoknya, lengkap sudah disiapkan untuk menjadi artis besar. Sejak pukul 5 pagi sampai jam 12 malam digodok terus untuk kepentingan karantina nyanyi. Saat tampil juga disiapkan sponsor untuk baju yang akan dikenakan, dikasi uang jajan lagi.
 
Selama berada di karantina kita tidak boleh bawa hp, sehingga komunikasi dengan keluarga pun sangat dibatasi. Ini maksudnya agar kita sebagai peserta benar-benar bisa konsentrasi. Semacam itulah, memang saat tampil kita benar-benar jadi berubah 180 derajat. Senang menjadi salah seorang peserta ajang lomba, dampaknya kemudian ya kita bisa cari nafkah dari tarik suara. Meski mungkin zaman saya ikut dulu tidak sedetail seperti sekarang dalam hal penjurian. Namun,yang saya rasakan memang sangat banyak manfaatnya.
 
CN: Tidak sedikit setelah keluar dari ajang lomba banyak juga yang tidak menjadi apa-apa. Kenapa? Padahal mereka kan cukup dibekali ilmu?
 
Rya: Bakat adalah karunia Tuhan yang harus dijaga, diamalkan. Namun, sebagai penyanyi kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Mau serius kah atau hanya mencari pengalaman hidup kah? Kalau serius, berarti kita harus siap kreatif, dan teus berkarya. Jangan lantas patah arang, setelah kita tidak menjadi pemenang nomor wahid, misalnya. 
Saat dulu saya masuk 20 besar KDI angkatan ke-3. Saya tersenggol di 10 besar. Namun, saya pun tidak merasa down, apalagi patah semangat. Memang di 20 besar kita sudah dilibatkan dalam manajemen artis MNC (dulu TPI), sehingga kita juga sering dapet job. Begitu selesai masa kontrak, saya langsung bikin banyak rencana. Mau terus menyanyi atau kerja di luar musik? Saya kemudian yakin, suara saya tidak jelek, percaya diri aja untuk mencari celah dengan membuat rekaman hingga sekarang ini.
 
CN: Pada kenyataannya Anda berpijak di dua genre musik, pop dangdut dan pop Sunda, kenapa? Mengapa tidak fokus pada satu genre agar orang lebih mengenal Rya sebagai penyanyi dangdut, atau spesialis penyanyi pop Sunda secara utuh?
 
Rya: Ya, awalnya saya hanya nyanyi dangdut, itu di tahun 2004. Namun, ada tawaran juga di musik pop Sunda? Tawarannya bagus saat itu, sempat gamang juga. Kebetulan bertemu Evie Tamala dan Nia Daniati, mereka senior saya yang sudah mencoba di genre dangdut dan pop serta pop Sunda. Menurut mereka, tidak apa-apa kembangkan dua genre, itu berarti saya tidak meninggalkan budaya sendiri. 
 
Keyakinan itulah yang kemudian keasyikan sampai sekarang. Ya rekaman saya buat album dangdut, juga saya bikin album pop Sunda. Dan sampai sekarang ini sudah dua album pop dangdut dan selebihnya 5 album adalah pop Sunda. Terakhir saya perkenalkan “Sono Ah Sono” lagunya asyik. Sedangkan dangdut terakhir bikin “Kamu Gila Aku Juga”. Pokoknya dibuat tidak ribet kok santai tapi serius.
Alhamdulilah, mungkin betul orang melihat saya ini sebagai penyanyi dangdut atau penyanyi pop Sunda? Yang jelas, di balik dua genre yang saya jalani tersebut sebetulnya ada misi budaya yang ingin saya kembangkan. Saya sering tampil di luar Bandung sebagai penyanyi dangdut. Pernah juga nyanyi di luar negeri, kerap saya selipkan lagu pop Sunda. Maksudnya, saya bangga sekali kalau saya juga bisa mengangkat budaya Sunda di mata orang lain.
 
Saya pikir belum tentu penyanyi lain bisa membawa atau mengangkat  budayanya sendiri, hanya karena mereka menekuni satu genre musik. Meski penyanyi itu harus serba bisa, saya ingin seperti bunda Hetty Koes Endang, yang serba bisa di semua genre.
 
 
CN: Kembali ke soal dangdut, apa yang membuat Anda merasa nyaman? Goyangannya? Bayarannya? Atau ada alasan lain?
 
Rya: (tertawa) Dangdut itu kehidupan. Jika sudah masuk di dalamnya, jika tak goyang bukan dangdut namanya. Apalagi sering mengisi acara-acara pilkada di luar Jawa. Saya sering nyanyi di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan kota-kota lainnya. Rasanya kalau tampil di acara pilkada, jika tidak ada dangdut seperti acara itu kurang afdol, jadi enggak sah. Karena dangdut bisa mengumpulkan massa. Pada hakikatnya kita ini kan kurang hiburan, jadi kalau ada kampanye misalnya, itu saya yakin tidak sedikit yang datang ke lapangan, karena ingin menikmati musik dangdutnya. Dampaknya, ya bisa mendengarkan orasi para calon pejabat.  
 
CN: Gara-gara nyanyi di Pilkada, nama Rya dan sejumlah artis dangdut lainnya pun ikut terseret dalam kasus Akil Mochtar. Apa merasa terganggu dengan pemberitaan itu?
 
Rya: Terganggu sih enggak, ya namanya artis, nyanyi saat Pilkada, aku sih santai aja, profesional aja. Terang saja akan menemukan bukti transfer saat nyanyi di Kalimantan, aduh itu udah tahun kuda, lama banget. Masa nyanyi gratis? Ya dibayar dong, pembayaran nyanyi itulah banyak diekspos di media. Tetapi ambil hikmahnya saja. Ini salah satu risiko kali jadi penyanyi, ha ha ha.
 
CN: Oke apa kesibukan Rya sekarang? 
 
Rya: Masih ngamen, nyanyi di luar Bandung dan di Bandung. Kebetulan saya baru saja melepas album (minialbum) saya pop Sunda “Sono ah Sono”. Konsentrasi saya paling promo lagu ini, baik ke radio-radio, nyanyi di panggung dan masih laris manis di dangdut. Apalagi sekarang dangdut sedang ramai-rainya ya. Dampak positifnya, kita ikut menikmati ajakan beberapa acara di Indonesia. 
CN: Udah banyak dong yang bisa dinikmati dari nyanyi, apa saja yang bisa diibanggakan dari karier bernyanyinya selama ini? Boleh dong berbagi!
 
Rya: Alhamdulilah bisa memberi rezeki yang barokah. Saya beli tanah dan bikin rumah buat ibu saya. Belinya enggak besar sih hanya 10 tumbak aja di daerah Padalarang, KBB. Selebihnya ada mobil, menaikkan haji orangtua dan nenek, ada rumah saya, dan ada sedikit disimpan di bank. Selebihnya untuk kehidupan sehari-hari. Beli kostum, pokoknya bangga bisa hidup dari nyanyi.
 
CN: Di luar keartisan punya kesibukan apa? Bisnis misalnya?
 
Rya: Hmm, ya ini baru coba-coba membuka Spa and Reflexiologi di dua lokasi hotel. Ini juga kerja sama ama teman, mudah-mudahan bisa lancar. Salah satunya lokasi hotelnya di Cihampelas Bandung. Baru belajar bisnis, tetapi asik juga seperti menantang kalau untuk diseriusi.
 
CN: Di tengah kesibukan, ya saya pegang sendiri karier menyanyi. Kenapa tidak dipegang oleh manajemen misalnya, biar Rya sendiri tidak terlalu capek mikirin jadwal manggung dan kesibukan bisnis serta keperluan pribadi?
 
Rya: (Tersenyum) saya udah lewati semuanya. Pernah punya manajer, segalanya ditekel oleh manajer termasuk kontrak.  Namun apa? Ujung-ujungnya sang oknum manajer bawa kabur uang saya. Kapok sih enggak, tapi menjadi lebih hati-hati saja kalau nanti mau ambil lagi manajemen keartisan dalam menjalani karier saya. Kalau sekarang biar ada kesibukan jadi megang sendiri dulu. Masih nyaman juga. 
 
CN: Oke terima kasih sukses ya, Rya!
 
Rya: Kembali kasih sukses juga buat CikalNews. Media onlinenya bagus prospeknya oke. Saling mendoakan ya. (Jr./Ode)**
 
 
 
Biodata:
 
Nama Lengkap  : Rya Fitria
Nama panggilan : Rya
Tempat dan Tanggal Lahir  : Bandung, 10 Juni 1985
Pendidikan ; Alumni Unikom Jurusan Public Relation (S1)
Alamat :
Jl. Buanasari 4 No. 7A Logam (Margacinta) Bandung
 

 

Prestasi - Juara I MTQ Tingkat Jabar 2000
  - Juara I MTQ Tingkat Jabar 2013
  - Juara I Piringan Emas “Iis Dahlia”
  - Juara I Lomba Dangdut Radio Dahlia
  - Juara I Dangdut Ria Indosiar
  - Juara I Nyai Dasima TPI
  - Juara I Selendang TVRI Jabar
 
                       
 
Rekaman  :   Album I  berjudul “Kecewa” (dangdut)
                    Album II “Bogoh Ka Saha” (pop Sunda)
                    Album III “Demi Cinta” (pop Sunda)
                    Album IV “Alim Patebih” (pop Sunda)
                    Album V “Kamu Gila Aku Juga” (dangdut-2014)                 
                    Album VI “Nista" (pop Sunda)
                    Album “Sono Ah Sono” (pop Sunda-2015)
.

Categories:KopiSore,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait