Pembatalan Pembangunan Pelabuhan Cilamaya Jaga Pasokan Migas

Pembatalan Pembangunan Pelabuhan Cilamaya Jaga Pasokan Migas

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Indroyono Soesilo.(Foto:liputan6)

Jakarta  - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan, pembatalan pembangunan Pelabuhan Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, untuk menjaga pasokan minyak dan gas bumi (migas).

"Kita harus menyelamatkan lapangan migas kita di Blok Offshore North West Jawa (ONWJ)," katanya dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Bidang Kemaritiman di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, Kamis (2/4/2015).

Menurut dia, kapasitas produksi minyak di blok itu mencapai 40.000 barel per hari, sedangkan produksi gas mencapai 180 MMSCFD.

Ke depan, pengembangan kapasitas produksi juga akan dilakukan mengingat pada 2022, ditargetkan produksi minyak meningkat menjadi 50.000 barel per hari dan gas 200 Million Metric Cubic Feet per Day (MMSCFD).

Di sisi lain, pemerintah juga harus segera membangun pelabuhan di Pantai Utara Jawa sebagai persiapan jika nanti Pelabuhan Tanjung Priok sudah melebihi kapasitas.

"Oleh karena itu, di cari kebijakan yang paling optimal dan maksimal, setelah rapat akhirnya diputuskan digeser ke arah timur," tuturnya.

Indroyono menuturkan, penggeseran proyek pelabuhan ke wilayah timur Jawa Barat diputuskan berdasarkan asumsi akan adanya pergerakan industri ke wilayah timur.

"Industri juga kan bergerak ke timur. Begitu juga penyebaran pertumbuhan dan diharapkan bisa membuka lapangan kerja untuk masyarakat. Yang pasti, juga harus menyelamatkan persawahan di sana," ucapnya.

Ia juga memastikan rencana pembangunan Pelabuhan Cilamaya masih memasuki tahap awal, sehingga belum ada investasi yang masuk.

"Kita bicara tahun 2020, bukan sekarang. Lagi pula masih di Jawa Barat kok," ujarnya.

Pemerintah membatalkan pembangunan pelabuhan di Cilamaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, dan akan membangun di wilayah yang lebih timur di provinsi tersebut.

"Tadi diputuskan bahwa rencana pelabuhan tetap harus berjalan secepat-cepatnya, tapi agak bergeser di daerah yang aman ke timur yang di depannya tidak banyak anjungan-anjungan dan oil rig," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla, seusai meninjau Cilamaya di Desa Tanjungjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (2/4/2015).

Menurut dia, daerah yang akan dipilih adalah Jawa Barat wilayah timur selain Cilamaya, seperti wilayah Kabupaten Subang atau pun Indramayu yang memiliki kawasan bebas pipa jalur minyak dan gas atau pun anjungan minyak lepas pantai.

Wapres melakukan rapat membahas keputusan tersebut di Kantor Kepala Desa Tanjungjaya. dengan melibatkan Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Susilo dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Selain itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, dan Plt. Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana.

Wapres Kalla menambahkan pemindahan rencana daerah untuk pembangunan pelabuhan tersebut, untuk mengutamakan keamanan kapal yang singgah dan produksi minyak dan gas dari sejumlah anjungan Pertamina tidak terganggu. (AY)

.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,