AIPGI Harapkan Ada Upaya Hidupkan Lagi Tambak Garam

AIPGI Harapkan Ada Upaya Hidupkan Lagi Tambak Garam

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Sekretaris Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara berharap ada upaya untuk memaksimalkan dan menghidupkan kembali tambak garam yang vacum atau tidak beroperasi guna meningkatkan produksi garam nasional.

"Dari lahan eksisting saat ini, ada tambak yang vacum karena berbagai alasan. Hal itu perlu ada upaya untuk menghidupkan kembali," kata Cucu Sutara di Bandung, Selasa (7/4/2015).

Cucu menyebutkan, di Jawa Barat saat ini terdapat 1.716 hektare tambak garam yang tersebar di Kabupaten Subang, Indramayu dan Cirebon.

"Pantai kita memang panjang, terpanjang di dunia, namun tidak semua pantai bisa memproduksi garam. Di Jabar saja hanya ada di Pantura, itupun di Subang, Indramayu dan Cirebon saja," katanya.

Ia menyebutkan jumlah produksi garam Jabar sekitar 224 ribu ton per tahun. Sekitar 80 persen produksinya, pemenuhannya bagi kalangan rumah tangga. Sisanya, bagi industri.

"Jabar masih harus impor garam karena masih kekurangan, khususnya untuk garam industri," kata Cucu.

Ia berharap realisasi penyerapan garam tahun 2015 bisa maksimal seperti tahun sebelumnya. Ia memastikan garam lokal sudah terserap, termasuk oleh industri.

Lebih lanjut Cucu menyebutkan, luas areal produksi garam nasional yakni di Jabar 1.716 ha, Jateng 2.748 ha, Jatim 11.867 ha, NTB 1.052 ha, NTT 950 ha, Sulsel 1.025 ha dan Sulawesi Tengah 300 ha.

Sementara itu harga jual garam saat berkisar Rp630-Rp650/kg di gudang karena pada awal tahun biasanya petani berhenti produksi selama musim hujan.

Sementara itu kebutuhan garam nasional saat ini sebesar 3,5 juta ton per tahun. Sedangkan total rata-rata produksi garam dalam negeri saat ini 1,6 juta ton per tahun. Jumlah produksi itu belum termasuk garam yang memenuhi kebutuhan industri.

Dengan produksi sebanyak itu, maka impor garam masih cukup besar 2,1 juta ton per tahun. Sebagian besar dari impor itu adalah garam industri.

"Sebagian besar garam impor itu untuk industri, farmasi dan lainnya. Sedangkan produk nasional sebagian besar adalah untuk garam konsumsi," katanya menambahkan. (AY)

.

Categories:Bandung,
Tags:,