Aksesori Primitif Diminati Konsumen

Aksesori Primitif Diminati Konsumen

Ilustrasi.(Foto:Net)

Bandung - Aneka aksesori primitif yang terbuat dari kayu, tulang dan biji-bijian kreasi sejumlah pemuda asal Bandung diminati konsumen tak hanya di pasar domestik tapi juga di Eropa.

"Bahan baku tulang kami peroleh dari limbah restoran, sedangkan biji-bijian kami cari di beberapa hutan kota yang ada di Bandung," kata salah seorang pengrajin aksesori, Kosim (33) di Ladieg Art, jalan Kanayakan, Dago, Kamis (9/4/2015).

Kosim mengatakan mayoritas pembeli aksesori primitif Ladieg Art mayoritas merupakan generasi muda dengan presentasenya sekitar 80 persen.

"Konsumen kami ada yang di Jakarta, Riau dan Jambi. Khusus di Jambi itu belum lama, soalnya daerah itu baru bikin bandara internasional. Ada mitra yang menjual kembali produk kami di sekitaran bandara," katanya.

Selain di pasar domestik, produk aksesori mereka juga dijual di beberapa pasar mancanegara seperti Belanda dan Rusia.

"Belum lama ini kami kirim patung kayu ke Rusia. Menurut cerita pembelinya, patung-patung itu akan dipakai untuk memperbaiki kondisi kejiwaan," kata Kosim.

Selain membuat aksesori dari kayu, tulang dan biji-bijian, mereka juga mengkreasikan batu akik menjadi produk primitif.

"Kami bosan melihat batu akik yang hanya dijadikan cincin atau kalung dengan bentuk monoton, maka kami coba mengkolaborasi aksesori tulang dengan batu akik. Salah satunya kalung naga berbahan tulang yang dipasang batu akik," katanya.

Berdiri sejak tahun 2005 lalu, aksesori primitif Ladieg Art dijual dengan kisaran harga mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Termasuk bahan baku dari beberapa jenis yang langka. (AY)

.

Categories:Bandung,