Polisi Afsel Tangkap 198 Orang Pendatang Haram

Polisi Afsel Tangkap 198 Orang Pendatang Haram

Johannesburg - Kepolisian Afrika Selatan, Kamis (30/4/2015), menangkap 198 pendatang haram dalam penggerebekan di Johannesburg, kata para pejabat, setelah terjadinya serangan-serangan 'xenophobia' yang menjadikan para pekerja asing berada di bawah sorotan.

Kelompok-kelompok massa telah mengincar para pekerja imigran dari Zimbabwe, Malawi dan negara-negara Afrika lainnya dalam kerusuhan yang menewaskan setidaknya tujuh orang dalam satu bulan kemarin.

Banyak warga miskin Afrika Selatan menyalahkan warga asing, yang dianggap mengambil lahan pekerjaan terbatas. Rasa frustrasi itu meletus menjadi kerusuhan di Johannesburg serta kota pelabuhan Durban.

Polisi, yang didukung oleh tentara, menahan 212 orang di kota Lenasia di selatan Johannesburg, menyusul adanya informasi yang "menunjukkan kegiatan kriminal di wilayah itu," kata juru bicara kepolisian Kay Makhubela kepada AFP.

"Tentara membantu kami saat penggerebekan dan ketika kami menemui orang-orang tanpa dokumen sah, para pejabat departemen dalam negeri memeriksa mereka." Hanya 14 dari yang ditahan merupakan warga negara Afrika Selatan. Keseluruhan 212 orang tersebut akan disidangkan pekan depan setelah senjata tanpa izin serta persenjataan lainnya dan ganja disita, tambah polisi.

Makhubela mengatakan penggeberekan bukan merupakan bagian dari langkah pemerintah terhadap serangan-serangan 'xenophobik' (terkait dengan kebencian atau ketakutan terhadap orang asing, red).

Jutaan pendatang Afrika, yang banyak di antaranya tanpa izin, bekerja di Afrika Selatan. Mereka sering kali bekerja di tempat-tempat konstruksi atau menjadi pekerja paruh-waktu.

Raja Zulu Goodwill Zwelithini, yang merupakan pemimpin kelompok etnis terbesar di Afrika Selatan, dituding sebagai sosok yang memicu kekerasan setelah ia secara terbuka mengatakan warga-warga asing sebaiknya pergi dari negara itu.

Rangkaian serangan, yang sudah reda dalam hari-hari belakangan ini, menghidupkan lagi ingatan atas pertumpahan darah terkait 'xenophobia' pada 2008, yaitu ketika 62 orang terbunuh. Peristiwa itu menodai gambaran Afrika Selatan sebagai negara yang menghormati toleransi pasca 'apartheid' (pemisahan ras).

Parlemen pekan ini telah ditangguhkan guna memberi waktu kepada para anggotanya untuk menyampaikan pesan-pesan anti-'xenophobia' di daerah-daerah pemilihan mereka. (AY)

.

Categories:Internasional,