BJ Habibie, Indonesia Kurang Sosok Pemimpin

BJ Habibie, Indonesia Kurang Sosok Pemimpin

Presiden ketiga Indonesia, Bacharudin Jusuf Habibie

Jakarta  - Presiden ketiga Indonesia, Bacharudin Jusuf Habibie, optimistis terhadap kemampuan daya saing bangsa khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi walau dia nyatakan juga negara ini terkendala kepemimpinan. 


"Tidak ada alasan untuk pesimis, karena SDM Indonesia mempunyai bibit yang bagus-bagus," kata Habibie, usai menggelar pertemuan dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di kediamannya, Jakarta, Minggu (24/5/2015).

 
Habibie sendiri contohnya, dia pernah menduduki posisi strategis pada perusahaan pembuat pesawat terbang utama dunia, Messerschmidt Bolkow-Blohm, Jerman Barat (saat itu), dan juga turut merancang struktur pesawat tempur Panavia Tornado buatan konsorsium Eropa Barat, pada dasawarsa '80-an. 
 
PT Nurtanio (kemudian menjadi PT Dirgantara Indonesia) juga turut dia kembangkan dan besarkan. Bersama beberapa tokoh nasional lain, Habibie juga mendirikan dan membesarkan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. 


Usai diskusi itu, Habibie menjelaskan bahwa Indonesia masih dalam tahap berkembang ke arah yang lebih baik, sehingga masa-masa susah harus dilewati.

"Bangsa ini memiliki orang-orang terbaik, dulu saya saja dengan segala kemampuan bisa membuat pesawat, sekarang dengan generasi penerus yang cukup gizi pasti bisa melampaui," tuturnya.

Lebih lanjut, Habibie berpendapat SDM Indonesia sudah baik, namun terkendala dalam masalah kepemimpinan. Ia menganggap Indonesia kurang sosok pemimpin.

"Kreatif dan produktif akan lebih baik jika didukung lapangan pekerjaan, agar bisa maksimal menyalurkan kemampuannya," katanya.

Dia katakan, untuk mengeluarkan kemampuan terbaik seorang individu dibutuhkan visi misi pemimpin yang terpercaya.

Ia berharap, agar generasi muda bisa mendedikasikan ilmu dan kemampuannya untuk kemajuan bangsa Indonesia, sehingga dapat menularkan ilmunya kepada seluruh masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, Habibie juga berharap melalui AIPI bisa melahirkan 1.000 akademisi yang bisa mendukung proses kemajuan bangsa.

Saat ini AIPI hanya memiliki sekitar 80 anggota dari akademisi, dan memiliki target selalu bertambah anggota setiap bulannya.

"Saya berharap hingga bulan Oktober mendatang bisa mencapai 1.000 anggota yang kompeten dari Sabang hingga Merauke untuk menularkan ilmunya kepada nusa dan bangsa," katanya.(Ode)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,