Doa 'Untukmu Sahabat Kecilku'... Angeline

Doa 'Untukmu Sahabat Kecilku'... Angeline

ilustrasi : www.getscoop.com

TRENYUH. Barangkali kata itulah yang mengantarkan kita untuk turut bersimpati dan berbelasungkawa atas tragedi yang menimpa bocah cilik delapan tahun, AngelineKematian yang mengenaskan itu memang masih menyisakan misteri. Tak terkecuali pejabat, tokoh dan berbagai kalangan masyarakat larut dalam kesedihan atas nasib tragis bocah yang baru duduk di kelas 2 di Sekolah Dasar Negeri 12 Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Sanur, Bali.
 
 
Tak ayal, duka Angeline membuat kita sedih dan prihatin sekaligus geram terhadap sang pelaku yang tega membunuhnya dengan cara yang sangat keji. Lepas dari siapa pelaku dan otak di balik pembunuhan terhadap si kecil tersebut, yang jelas kenyataan itu mengundang simpati dan rasa haru dari banyak kalangan untuk turut memberikan ucapan berduka cita dan doa bagi kepergian Angeline.
 
Dengan meminjam sebuah judul puisi yang dibawakan oleh salah seorang teman Angeline di sekolahnya, Aisyah Putri Safira  (12) saat melakukan doa bersama atas keprihatinannya bersama guru dan teman-temannya "Untukmu Sahabat Kecilku" praktis rasa haru kita semakin menjadi dibuatnya. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan teman-teman di sekolahnya yang kehilangan Angeline untuk selama-lamanya. Selain berdoa bersama, mereka pun menata bunga di halaman sekolah, dengan membentuk sebuah tulisan .... Angeline.
 
 
Guru dan siswa pun semuanya larut dalam keheningan saat memanjatkan doa secara hikmat untuk Angeline, hingga menambah suasana semakin larut dalam keharuan. Aksi solidaritas spontan dari para siswa yang didasari atas rasa simpati dan duka mendalam itu, patut kita apresiasi guna mengenang kehangatan dan canda ria Angeline, saat berada di tengah teman-temannya di sekolah.
 
Tak hanya itu, aksi serupa bertajuk seribu lilin buat Angeline pun mereka gelar pada sore hingga malam harinya di Taman Pecangakan, Jembrana, dengan melibatkan siswa dan masyarakat dalam jumlah lebih besar. Ya, semua itu mereka lakukan sebagai gambaran betapa besarnya rasa simpati dan kehilangan mereka atas seseorang yang dicintainya selama ini.
 
Simpati dan perhatian terhadap  kejadian tragis itupun ternyata tidak hanya dilakukan dan terbatas di dalam negeri. Bahkan peristiwa itu telah menjadi perhatian dunia, di mana banyak media asing turut menyoroti dan memberritakannya. Dalam kasus pembunuhan tersebut polisi telah menetapkan dua orang tersangka, yakni Agustinus Tae, seorang pekerja rumah tangga dan Margareta Megawe, ibu angkat Angeline yang tinggal di Jalan Sedap Malam No. 26, Sanur, Bali.
 
 
Atas kejadian itu, pihak kepolisian terus mendalaminya hingga muncul suatu pengakuan dari Agus. Ia mengaku akan mendapat imbalan uang dalam jumlah besar untuk menghabisi nyawa Angeline. Bahkan, Agus pun mengaku bahwa semua itu diperintahkan oleh ibu angkat Angeline, dengan diiming-imingi sejumlah uang hingga dua miliar rupiah yang dijanjikan akan dibayarkan pada 25 Juni nanti.
 
Ya, memang dalam kondisi seperti sekarang ini sepertinya sulit untuk menemukan siapa orangnya yang tidak terbuai oleh rayuan itu, meski harus menghabisi nyawa seseorang sekalipun. Namun, kalau kita berpikir jernih dan berdasarkan naluri seorang hamba Allah, mampu dan sampai hatikah kita berbuat sedemikian rupa hanya karena uang? Pertanyaan itulah yang muncul di benak kita dan tidak habis pikir, manakala melihat risiko dan dosa menghadang di depannya.
 
 
Bahkan yang lebih menyedihkan dan menyakitkan lagi, berdasarkan pengakuan tersangka sebelum nyawa Angeline dihabisi, Agus pun telah melakukan beberapa kali pelecehan seksual dan perkosaan terhadap sang korban. Namun begitu, pihak kepolisian pun masih berupaya mengungkap kasus pembunuhan itu yang tidak tertutup kemungkinan ada tersangka lain yang ikut berperan.
 
Memang, bukti tidak cukup hanya dari keterangan tersangka, sehingga harus dibuktikan dengan keterangan medis dan keterangan ahli terkait dengan kebenaran yang disampaikan pria asal Nusa Tenggara Timur itu. Dan tak jarang kasus kekerasan terhadap anak sebagian besar dilakukan oleh orang terdekat yang berada di lingkungannya, baik sekolah, tetangga maupun keluarga sendiri.
 
 
Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, berbagai temuan sudah dikirim ke Jakarta untuk diteliti lebih lanjut. Misalnya, terdapat darah pada sebuah tisu ditemukan di kamarnya yang akan dicocokkan dengan DNA Angeline. Bahkan, bercak darah itupun ditemukan di dalam kamar tersangka Agustinus Tae, termasuk juga di kamar ibu angkat Angeline.
 
 
 
Memang penyidikan belum final, sehingga tidak menutup kemungkinan ada pelaku lain yang masih ada hubungan dekat dengan korban. Yang jelas, penuntasan kasus harus dilakukan karena hasil otopsi jenazah Angeline, banyak ditemukan luka lebam akibat benda tumpul dan luka sundutan rokok di bahu kanan jenazah. Boleh jadi ada pelaku lain yang menuntut penyidikan lebih gencar dilakukan, dan seluruh keluarga terdekat korban wajib dimintai pertanggungjawaban terkait dengan kasus itu.
 

Selamat jalan.... Angeline, doa dari mereka yang trenyuh senantiasa menyertaimu. (Jr.)**

.

Categories:PenaCikal,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait