Ujungberung Cikal Bakal Kota Bandung?

Ujungberung Cikal Bakal Kota Bandung?

Ilustrasi, Masjid Besar Ujung Berung, Kota Bandung.(Foto:berjalanjalan.com)

MENGUPAS nama-nama tempat di Kota Bandung, sejatinya memiliki arti tersendiri terutama bagi mereka yang senang atau memiliki hobi yang ada kaitannya dengan etimologis. Seperti mengetahui asal usul nama Ujungberung, salah satu kecamatan di Kota Bandung, tepatnya sebelah timur. Seperti diketahui, Kecamatan Ujungberung mempunyai lima kelurahan yaitu Pasirendah, Cigending, Pasirjati, Pasirwangi, dan Kelurahan Pasanggrahan.

Sekadar diketahui, dulunya Ujungberung merupakan satu wilayah yang sangat luas. Lalu kenapa wilayah ini disebut Ujungberung, dan apa pula yang melatarbelakangi wilayah yang berada di ujung timur Kota Bandung ini dinamakan Ujungberung? Ada beberapa versi yang membuat wilayah yang memanjang di timur Kota Bandung ini, dan terkenal dengan bangunan tamannya yang monumental, kemudian akrab disebut dengan nama Ujungberung.

Versi pertama menyebutkan adanya keterkaitan dengan Dipati Ukur, tokoh yang begitu dikenal di Tatar Sunda. Berdasarkan versi ini disebutkan, saat masa pelariannya ketika dikejar tentara Mataram, Dipati Ukur berada di suatu tempat di pinggiran danau Bandung Purba di sebelah timur Kota Bandung. Konon saat itu, tempat tersebut ditumbuhi oleh tanaman bambu yang sangat lebat, sebab itu kendati sudah terkepung tentara Mataram, Dipati Ukur dan rombongannya selamat, karena berhasil menyamarkan diri. Merasa kesal, tentara Mataram menganggap daerah itu sebagai Ujung-nya dari upaya pengejaran yang sangat panjang dalam nga-Berung napsu (mengumbar nafsu) untuk menangkap sang Dipati. Maka wilayah tersebut disebut sebagai Ujungberung.

Sedangkan versi yang kedua ternyata berkaitan erat dengan legenda Sangkuriang, saat membuat perahu agar dapat menikahi ibunya Dayang Sumbi. Karena gagal, akhirnya Sangkuriang marah besar sehingga menendang perahu yang kemudian berubah menjadi Gunung Tangkubanparahu dan selendang Dayang Sumbi berubah menjadi Gunung Manglayang. Lalu nama Ujungberung diambil dari tempat akhir dari usaha Sangkuriang saat mengumbar nafsu karena gagal menikahi ibunya, yaitu berasal dari kata tempat “ujung-na nga-berung nafsu”.

Sejarah juga mencatat, pada awal pembentukan Jalan Raya Pos (1811) masa kolonial Gubernur Daendels, Ujungberung merupakan wilayah yang sangat luas. Ujungberung terbagi dua, sebelah selatan dan utara jalan pos disebut Oedjoengbroeng Kaler dan Oedjoengbroeng Kidoel. Pusat pemerintahannya bernama "Oedjiengbroeng" yang terletak di sekitar Cipaganti Hilir. Batas timur adalah sungai Cibeusi yang berbatasan dengan Parakan Muncang. Batas di utara berupa rangkaian pengunungan, mulai Gunung Manglayang hingga Gunung Tangkubanparahu, sedangkan di selatan berbatasan dengan ibu kota Bandung lama, Krapyak atau Dayeuhkolot dan sepanjang aliran sungai Citarum.

Tak hanya itu, wilayah Ujungberung tempo dulu hingga kini ternyata berkaitan dengan nama-nama daerah yang mengandung kata air (Cai atau Ci) seperti Cicadas, Cicaheum, Cikadut, Cicukang, Cinambo, Cibiru, Cipadung, dan Cileunyi. Ciri lainnya nama-nama daerah berhubungan dengan rawa (ranca) seperti Rancabolang, Rancakasumba, Rancaekek, dan Rancanumpang. Sebelah utara jalan pos nama-nama wilayah Ujungberung menggunakan nama pasir (bukit) seperti Pasirjati, Pasirkunci, Pasirtengah, dan Pasirangin.

Khusus daerah yang berada di antara dua bukit disebut legok (cekungan) seperti Legokhayam, Legoknyenang, dan Legokbadak. Namun ada daerah utara jalan pos yang menggunakan nama Ci yang dulunya kemungkinan sumber mata air atau dilalui aliran sungai seperti : Cigending, Ciseupan, Cijambe, Cipanjalu, dan Cigagak. Jadi cikal bakal kehidupan masyarakat Kota dan Kabupaten Bandung salah satunya adalah Ujungberung. Percaya atau tidak, ternyata Ujungberung memiliki peran penting bagi bertumbuhkembangnya wilayah-wilayah yang ada di Kabupaten maupun Kota Bandung. (AY)

.

Categories:Unik,
Tags:unik,

terkait

    Tidak ada artikel terkait