Ramadan, Beli dan Konsumsi Pangan dengan Bijak

Ramadan, Beli dan Konsumsi Pangan dengan Bijak

Ir. Umi Sjafitrie (tengah) saat diwawancarai Tim Cikalnews, (cikalnews/ode)

SEBUAH alasan klise, harga berbagai jenis kebutuhan pokok senantiasa melonjak, manakala kebutuhan dan permintaan konsumen meningkat. Terlebih pada setiap datangnya hari-hari besar seperti Ramadan, para pedagang baik  di pasar tradisional maupun pasar modern seakan serempak untuk menaikkan harga kebutuhan sehari-hari. Sebut saja mulai dari beras, daging ayam, daging sapi, telur maupun berbagai jenis sayuran semuanya larut ke tingkat harga yang membuat kita semua geleng-geleng kepala.
 
Memang, kenaikan harga yang ditawarkan pedagang bervariasi, sesuai dengan kondisi tingkat permintaan konsumen dan pasokan dari para distributor. Adakalanya harga melejit akibat pasokan barang ke pasaran semakin seret, sementara permintaan konsumen masih biasa-biasa saja. Yang paling terasa adalah adanya lonjakan harga daging sapi bisa melonjak hingga tiga kali lipat dari biasanya lipat. Padahal, daging sapi sejak jauh -jauh hari menjelang Puasa ini sudah diantisipasi, sehingga stok di para pedagang relatif mencukupi.
 
 
Menghadapi kondisi perdagangan berbagai jenis kebutuhan pokok di pasaran yang semakin tidak nyaman di mata konsumen akhir-akhir ini,  Tim CikalNews coba menelusuri apa penyebab timbulnya keluh kesah masyarakat, seputar persoalan mahalnya harga kebutuhan sehari-hari tersebut di bulan Puasa. Yakni dengan mengundang Ir. Umi Sjafitrie, selaku Kepala Bidang Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Panbgan (Distan KP) Kota Bandung, guna membeberkan bagaimana stok kebutuhan pokok ini di pasaran, dan apa saja yang berpengaruh kuat terhadap lonjakan harga di bulan Puasa ini. 
 
 
Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang saat ini bekerja sebagai PNS ini mencoba berbagai dengan menjelaskan seputar persoalan  pangan, yang seringkali konsumen dibuat bingung ketika menghadapi hari-hari besar seperti Puasa. Ibu dari dua orang anak kelahiran Bandung 7 Mei 1959 ini, bersama aparat lainnya di Distan KP rutin melakukan sidak ke pasar-pasar yang ada di Kota Bandung, dalam rangka mengantisipasi kondisi bahan pangan yang aman atau tidak berbahaya bagi warganya.
 
Kepada Cepi Juniar Djatnika (Pemred CikalNews.com) dan Wa Ode Ratna Djuwita (Redaktur) dalam acara Ngopi Sore, serta reporter CikalNews.com Putri Puspita,  Umy menyampaikan bagaimana mutu pangan khususnya pangan segar yang ada di Kota Bandung di bulan Puasa ini, yang rata-rata harganya meroket. Berikut petikan wawancara dengan CikalNews.com.
 
CikalNews.com (CN): Apa kabar Bu? Sibuk ya, apalagi menjelang Ramadan kemarin?

Umy Syafitrie (Umy): Ya begitulah demi memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, harus ada kerja nyata, baik dalam mengantisipasi maupun mencari solusi yang muncul di masyarakat..

CN :  Menjelang hari besar seperti Ramadan dan Lebaran berbagai jenis pangan harganya melonjak di pasaran, termasuk dilihat dari sisi keamanannya jika dikonsumsi. Jenis pangan apa saja sih sebetulnya yang diperiksa oleh Dinas Mutu Pangan?


 
Umy  :  Selama ini kami sebenarnya rutin melakukan sidak (inspeksi mendadak) baik menyangkut harga maupun mutu barang yang beredar di pasaran. Begitupun pada saat menjelang Ramadan kemarin kami melakukan sidak ke beberapa pasar tradisional dan modern. Namun khusus pada Ramadan kali ini, sidak yang dilakukan lebih terfokus pada jenis pangan segar. Misalnya ayam, daging sapi, serta berbagai jenis ikan, termasuk juga bawang merah dan beras.

CN  :  Apakah fluktuasi harga pangan di Kota Bandung pada tahun ini semakin meningkat dari tahun sebelumnya atau bagaimana?



Umy : Di tahun ini sebetulnya relatif stabil, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski masih ditemukan kasus atau kenaikan harga yang mencolok, karena kami sudah memasok bahan pangan yang cukup sebelumnya, sehingga harga-harga masih bisa diredam dan terbilang stabil. Hanya saja untuk bawang merah memang harganya sedikit meningkat yang biasanya sekitar Rp 24.000 kini di pasar tradisional saja sudah mencapai Rp. 32.000/kg, sedangkan di pasar modern mencapai Rp 43.600/kg.

CN  : Jenis pangan segar apa saja yang harganya mengalami lonjakan cukup tinggi di saat Ramadan tahun ini?

Umy : Ya sebenarnya untuk ayam, daging sapi, ikan, bawang merah dan beras harganya tidak mengalami lonjakan terlalu tinggi. Namun untuk daging sapi menghadapi Ramadan ini, Rumah Potong Hewan (RPH) meningkatkan persediaannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Biasanya 90-100 ekor per hari, tetapi saat menjelang Ramadan ini menjadi 200 ekor per harinya. 
 
 
Bahkan, untuk tanggal 17 Juni 2015 lalu kurang lebih hingga 392 ekor.  Namun begitu, setelah memasuki bulan Ramadan ini pemotongan kembali normal. Paling akan ditingkatkan lagi ketika mendekati hari Lebaran nanti. Memang biasanya begitu, sambail dibarengi dengan dilakukannya sidak dalam rangka pengawasan yang terus-menerus.

CN  : Faktor apa saja yang membuat harga daging sapi bisa melonjak? Bagaimana untuk menanggulanginya agar tidak terlalu merepotkan masyarakat?

Umy  : Ya tentunya ini terjadi  karena mau menyambut Ramadan, di mana setiap keluarga ingin menikmati makanan bersama keluarga yang enak dan berbeda dari hari-hari biasanya. Jadi setiap jelang hari besar seperti Puasa ini setiap keluarga mengusahakan untuk menyediakan daging di rumahnya. Jadi tidak seperti hari-hari biasanya, kan gitu.

Untuk harga daging sapi  di pasar tradisional saat ini mencapai Rp 120.000/kg, sedangkan di pasar modern bisa mencapai Rp 214.000/kg. Dengan begitu diharapkan adanya penambahan pemotongan daging guna mengimbangi lonjakan permintaan pasar. Sekaligus upaya mengantisipasi terhadap meroketnya harga di pasaran.

CN : Bagaimana untuk harga daging ayam maupun telur jelang Ramadan?
 
Umy  : Untuk daging ayam naiknya tidak terlalu tinggi dari yang biasanya dijual Rp 28.000 sekarang menjadi Rp 32.000/kg. Sedangkan telur ayam biasanya dijual seharga Rp 18.000 kini menjadi Rp 22.000/kg. Ini masih bisa dimaklumi.

CN  : Dari hasil sidak jelang Ramadan yang baru lalu, apakah ada makanan yang kondisinya tidak aman untuk dikonsumsi?

Umy  : Sejauh ini kalau untuk daging sih aman-aman saja, tetapi masih saja ditemukan jenis makanan yang mengandung boraks dan formalin. Seperti kemarin di salah satu pasar modern ditemukan teri yang terlihat basah, seharusnya teri itu kan lembab, dan saat dites menggunakan Rapid Kit Test menunjukkan warna ungu, yang artinya mengandung formalin. Meski kasus seperti ini tidak sebanyak terjadia di tahun-tahun sebelumnya, kami tetap harus mengantisipasi untuk keamanan warga.

CN  :  Baru-baru ini masyarakat dihebohkan oleh beredarnya beras plastik. Bagaimana untuk keamanan beras di Bandung, apalagi isu beras plastik lalu merambah juga ke Kota Bandung?

Umy  : Untuk beras yang dicampur plastik di Bandung, Alhamdulillah tidak ditemukan. Beras plastik itu sulit untuk ditest, tetapi dari sidak kemarin kalau beras saat dimasukkan ke dalam air mengambang, kemungkinan itu plastik. Kalau yang asli tidak seperti itu. Saat diujicoba dengan anti-klorin, air beras juga tidak berubah warna.

 
CN  : Dari kasus-kasus yang ada, apakah ada hukuman bagi pedagang yang menjual bahan pangan dengan mutu yang buruk atau berbahaya?

Umy  : Kami hanya melakukan imbauan kepada para pedagang, agar mereka tetap bisa menjalankan usaha dagangnya. Tetapi jika kita sidak bersama polisi, pihak kepolisian yang berwenang untuk hal itu. Biasanya ketika sidak di lapangan kita hanya akan membawa sampel untuk diuji ke laboratorium saja.

CN Bagaimana untuk buah-buahan di Bandung? Apakah mutunya sudah terjamin?

 
Umy  : Di awal tahun lalu masih ditemukan apel yang mengandung bakteri Listeria Monocytogene. Saat itu ada pasar modern yang diduga masih menjual apel impor asal California Amerika Serikat itu. Padahal seharusnya apel tersebut sudah ditarik dari peredaran. Nah akhirnya kita coba test ternyata malah ditemukan apel tersebut dilapisi oleh lilin tipis, jadi kita kerik dan kulit luarnya ditemukan lilin tipis yang melapisi kulit Apel. Untuk itu kami mengimbau untuk memakan apel dikupas kulitnya terlebih dahulu.

CN  : Di bulan puasa ini, makanan seperti apa yang harus diperhatikan pembeli bagi para konsumen?

Umy  : Sekarang kan biasanya kalau buka puasa suka pada beli gorengan, nah itu kan minyaknya kadang sudah sampai hitam tetapi masih digunakan, sebaiknya sebagai pembeli kita memperhatikan kesehatan. Dan pedagang juga sebaiknya tidak menggunakan minyak yang berkali-kali digunakan untuk menggoreng. Ya, jika ingin aman sebaiknya menggoreng sendiri saja di rumah.
 
CN : Apakah Dinas Mutu Pertanian menerima pengaduan dari pihak lain untuk membawa  jenis sampel untuk diperiksa di laboratorium?

Umy  : Tentu saja, kita secara terbuka menerima jika ada yang memeriksa bahan makanan apapun itu untuk diuji di lab kami. Waktu itu juga ada dari Kabupaten Bandung datang membawa sampel makanan dan kami periksa secara gratis, tetapi  kami tidak bisa mengeluarkan surat bahwa makanan ini memang mengandung bahan-bahan yang berbahaya.
 
CN  : Apa imbauan untuk masyarakat di bulan Ramadan ini terkait dengan makanan yang berbahaya?

Umy  : Biasanya kita mengadakan sosialisasi dengan ibu-ibu PKK untuk memberi arahan, bagaimana bahan pangan yang bagus untuk dikonsumsi. Ketika berbelanja harus memastikan bahan pangan yang dibelinya benar-benar memiliki mutu yang sehat dan terjamin. Jangan sampai keluarga diberi makan makanan yang berbahan boraks atau formalin. 
 
 
Sedangkan untuk para pedagang ketika melakukan sidak biasanya kita memberikan arahan dan dibina supaya tidak menjual bahan pangan yang tidak sehat. Pernah mengadakan sidak beras bersama PD Pasar kita sudah memberi arahan kepada pedagang beras jangan membeli beras di agen yang sudah diberitahukan dari pihak kami. Jika ada konsumen yang ingin memeriksakan barangnya ke lab kami, bisa datang langsung ke Jalan Arjuna No. 45 Bandung.

CN  : Terima kasih bu atas bincang-bincangnya, semoga bisa bekerjasama terus demi kepentingan keamanan masyarakat dalam mengonsumsi bahan pangan.

Umy  :  Ya sama-sama terima kasih semoga sukses selalu buat CikalNews.com. (Ode/Jr.)**
.

Categories:KopiSore,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait