Mengenal Pernak-pernik Khas Ramadan di Mesir

Mengenal Pernak-pernik Khas Ramadan di Mesir

Kairo  - Sudah berabad-abad lamanya rakyat Mesir menjalankan puasa Ramadan dengan menghadirkan beragam tradisi yang membedakannnya dari bulan-bulan lain. Berikut beberapa pernak-pernik tradisi menonjol yang mewarnai suasana bulan suci umat Islam sedunia itu.

Mesahharati, yakni seseorang atau sekelompok orang yang dengan suka rela berkeliling jalan kaki membangunkan orang-orang untuk sahur menjelang subuh atau imsak, waktu dimulainya menahan makan dan minum serta perbuatan yang diharamkan saat puasa.

Mesahharati biasanya membawa "Tabla", semacan tifa atau rebana yang digantung dibahu, memukul dengan suara khas sambil mengumandangkan syair-syair bermakna seruan sahur.

Sejarawan Abdel Assad dalam bukunya "Tsaqafah Masriyah" (Kebudayaan Mesir) menyebutkan, Mesahharati di Mesir pertama kali dilakukan oleh Anbasa Ibnu Ishak pada 228 Hijriyah, sekitar tahun 878 Masehi.

Anbasa berjalan kaki dari kediamannya di Maditul Askar di Fusthtath (Kairo Kuno) menuju Masjid Amr Bin Ash, masjid pertama Mesir yang dibangun Panglima Amr Bin Ash setelah menaklukkan negara itu pada 639 Masehi di masa Khalifah Umar Bin Khattab. Sejak itu, Mesahharati kemudian menjadi tradisi dan masih diwarisi hingga saa ini. 

Fanus Ramadhan, berupa lampu penerang khas Mesir yang hadir di bulan puasa. Dikisahkan bahwa lampu ini muncul di era Fatimi yang menguasai Mesir pada 973-1171 Masehi. Penggunaan lampu ini di masa lalu menjadi penerang dalam perjalanan dari rumah ke masjid untuk shalat tarawih.

Warga Muslim Mesir hingga saat ini menjadikan Fatus Ramadhan, sebagai hiasan rumah setiap bulan Ramadhan dari ukuran besar hingga ukuran mini mainan anak-anak.

Midfa Ramadhan  atau disebut juga Midfa Iftar adalah meriam yang ditembakkan untuk menandai saat berbuka puasa. Tradisi tembakan meriam ini pertama kali dilakukan pada 1842 di masa Muhammad Ali Pasha, yang dikenal sebagai pendiri Mesir modern.

Meriam seberat 1,9 ton yang didatangkan dari Jerman ini diletakkan di Benteng Salahuddin Al Ayyubi, yang kini dikenal sebagai Qalaah atau Masjid Muhammad Ali Pasha, bertempat di sebuah bukit di bagian timur Kairo.

Meriam itu berfungsi hingga tahun 1980-an dan ketika itu setiap penembakan tanda buka puasa, disiarkan langsung oleh semua jaringan radio dan televisi setempat. Kini meriam itu tidak berfungsi lagi dan menjadi benda bersejarah di museum militer Qalaah.  Kendati demikian, semua TV dari radio setempat menayangkan tembakan meriam tiruan setiap magrib sebagai tanda berbuka puasa.

Maidatur Rahman adalah hidangan buka puasa gratis untuk para musafir dan fakir miskin yang disediakan di berbagai mesjid dan tempat-tempat terbuka. Biasanya hidangan ini disediakan para dermawan yang umumnya para pengusaha dan orang-orang berpunya.

Konafah wa Qathayef merupakan dua jenis kue khas Ramadhan untuk berbuka puasa, di samping korma. Kedua jenis kue itu terbuat dari tepung terigu dan bahan pendukung lainya yang "maknyuus". (Jr.)**
.

Categories:Unik,
Tags:,