Wisata Agro Belum Tergarap Optimal di Jabar (2)

Wisata Agro Belum Tergarap Optimal di Jabar (2)

BERBAGAI keterangan yang dihimpun Cikalnews.com, saat ini baru ada tiga objek wisata agro di Jawa Barat yang sudah dikunjungi para wisman 
maupun wisatawan domestik secara teratur. Ketiga objek agro 
tersebut masing-masing adalah perkebunan teh Gunung Mas di 
Kabupaten Bogor, perkebunan teh Malabar dan Rancabali di 
Kabupaten Bandung. 
Memang hingga saat ini baru areal perkebunan teh yang menjadi primadona bagi pengembangan wisata agro di Jawa Barat sedangkan jenis perkebunan lainnya seperti bakao, karet, kina, sawit, guttaperch dan lain-lain masih belum dikembangkan sebagai kawasan wisata agro.
Dengan gambaran seperti itu dapat dibayangkan betapa potensialnya 
pengembangan objek wisata agro di Jawa Barat. Sayangnya 
keberadaan wisata agro di Jawa Barat terkesan kurang dimanfaatkan 
secara optimal, mengingat bila dilihat dari luasnya areal 
konsensi PTPN VIII yang mencapai 116.910,12 hektare yaitu terdiri 
dari perkebunan teh 25.981,66 ha, karet 27.245,06 ha, kina 
4.305,18 ha, kakao 4.335,69 ha, sawit 5.056,69 ha, guttaperch 
713,95 ha dan lain-lain 49.271,94 hektar, baru sekitar 3.743,89 
hektar yang dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan wisata 
agro (itupun hanya dari tiga perkebunan teh). Sedangkan sisanya 
seluas 113.166,23 hektar belum dikembangkan sebagai kawasan 
wisata agro. Padahal bila dilihat dari kenyataan di lapangan 
bukan tidak mungkin upaya pengembangan kawasan wisata agro ini 
akan berhasil dengan baik bila dikelola lebih optimal lagi.
Kalaulah kemudian semua areal tidak mampu digarap untuk dijadikan 
kawasan wisata agro di Jawa Barat, minimal kawasan areal 
perkebunan teh yang luasnya mencapai 25.981,66 hektare mampu 
dijadikan sebagai kawasan wisata agro potensial di Jawa Barat. 
Saat ini diketahui ada enam kabupaten di Jabar yang memiliki 
areal perkebunan teh cukup luas, seperti Bandung (13.799,87 Ha), 
Garut (2.864,69 Ha), Subang (2.455,85 Ha), Cianjur (2.716,80 Ha), 
sukabumi (2.733,26 Ha) dan Bogor (1.411,19 Ha).
Selain itu, hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah upaya- 
upaya pengembangan wisata agro di Jawa Barat diharapkan mengimbas 
pada meningkatnya pendapatan masyarakat di sekitar objek. Untuk 
itu mereka harus dipersiapkan agar dapat menjadi tuan rumah yang 
baik bagi wisatawan yang berkunjung. Pembinaan kesadaran 
masyarakat dalam mengimplementasikan Sapta Pesona merupakan hal 
penting bagi keberhasilan usaha wisata tersebut.
Keberhasilan ini tentunya memerlukan kerjasama yang terpadu, 
sebab selama ini wisata agro yang berkaitan dengan pertanian 
masih banyak membutuhkan penanganan serius. Padahal Jawa Barat 
memiliki potensi memadai bagi pengembangan agrowisata pertanian. Di samping itu keikutsertaan swasta dalam menangani usaha wisata 
agro ini akan memberi angin segar bagi perkembangan wisata agro 
di Jawa Barat. Bagaimana pun keberadaan objek wisata agro ini 
menjadi fenomena baru bagi pertumbuhan dan perkembangan sektor 
pariwisata di Jawa Barat.(AY)

.

Categories:Wisata,
Tags:,