Akankah Cikapundung Menjadi Wisata Tirta? (1)

Akankah Cikapundung Menjadi Wisata Tirta? (1)

Sungai Cikapundung.

DI antara sekian banyak sungai yang membelah Kota Bandung, Sungai 
Cikapundung ternyata memiliki aliran paling panjang. Aliran 
Sungai Cikapundung tersebut, bermula dari kawasan Bandung Utara 
dan berakhir di kawasan Bandung Selatan. Sepanjang daerah yang 
dilaluinya, cukup banyak fenomena-fenomena alam yang menarik 
untuk diamati. Lalu mengkinkah sungai terpanjang di Kota Bandung 
ini, dijadikan objek wisata tirta?

Seperti halnya sejumlah sungai yang melintasi kota-kota di 
kawasan Eropa yang setiap saat dapat digunakan sebagai kegiatan 
wisata tirta. Seharusnya Sungai Cikapundung pun dilihat dari 
kapasitasnya sebagai sungai yang melintasi Kota Bandung, dapat 
digunakan sebagai kegiatan wisata tirta. Namun kurang diketahui 
bila kemudian fungsi sungai ini, tidak tergarap secara optimal 
sebagai kawasan wisata tirta.

Padahal keberadaan Sungai Cikapundung yang dapat dikatakan 
sebagai aset Kota Bandung tersebut, memiliki arti penting dalam 
pengembangan kegiatan kepariwisataan. Sayangnya bila ditelusuri, 
Cikapundung masih cukup banyak memiliki kelemahan sebagai suatu 
daya tarik wisata. Tapi bila mampu dikemas dengan baik, berbagai 
kemungkinan dapat saja terjadi dengan sungai yang bermuara di 
Sungai Citarum tersebut.

Sejumlah kelemahan yang nampak dari Sungai Cikapundung ini di 
antaranya adalah, kotornya aliran sungai akibat banyaknya sampah 
organik maupun non organik yang memenuhi daerah aliran sungai 
(DAS). Suasana tersebut sepertinya sudah menjadi kondisi 
keseharian di Sungai Cikapundung. Akibatnya, selain sungai tampak 
kotor, sungai juga jadi kelihatan tidak menarik untuk diamati.

Banyaknya sampah yang memenuhi Sungai Cikapundung tadi, 
sebenarnya menjadi catatan hitam dan harus dicarikan jalan 
keluarnya, sehingga kawasan ini benar-benar bersih dan indah 
dipandang mata. Biasanya pada musim penghujan seperti sekarang 
ini, dijadikan kesempatan oleh sejumlah warga untuk membuang 
sampah ke Sungai Cikapundung. Tak elok memang apa yang telah 
dibuat sejumlah warga tadi. Namun kondisi itulah yang telah 
terjadi di sepanjang aliran sungai yang dulunya menyimpan banyak 
kenangan tersebut.

Manakala mata memandang ke arah sungai yang membelah Kota Bandung 
ini, ada perasaan miris oleh berbagai keadaan yang membuat sungai 
tersebut menjadi kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau pun 
kemudian sungai tersebut masih ada, fungsinya tak lebih dari 
sekadar air yang mengalir di tengah-tengah kota. Sungai 
Cikapundung secara otomatis tidak memiliki daya tarik dan nilai 
jual sama sekali untuk kepentingan pariwisata.

Tidak menarik dan tidak adanya nilai jual bagi Sungai Cikapundung 
ini, sebenarnya berkaitan erat dengan tingkah pola masyarakat 
yang hidup di sepanjang sungai maupun masyarakat yang tidak mau 
peduli terhadap keberadaan sungai ini. Akibatnya semua hal yang 
berbau harum dari sungai ini, seperti tidak berbekas sama sekali, 
sehingga hilang lenyap ditelan masa. Sejumlah kondisi inilah yang 
kemudian membuat Sungai Cikapundung ini seperti seolah-olah 
menjadi kartu mati bagi pengembangan kepariwisataan yang ada di 
Kota Bandung.

Namun barangkali di antara sekian banyak kondisi yang membuat sungai ini kurang mendapat perhatian, ada celah lain yang dapat 
diangkat dan dimanfaatkan. Celah tersebut adalah bagaimana 
membuat kawasan ini memiliki nilai jual dan daya tarik bagi 
sejumlah kegiatan wisata tirta. Bagaimana pun beratnya upaya 
untuk mengangkat potensi ini, tak ada salahnya bila dicoba. 
Langkah awal yang cukup baik sebenarnya sudah pernah dilakukan 
oleh Pemkot Bandung dengan menggelar lomba memancing dan 
bakti sosial membersihkan Sungai Cikapundung beberapa waktu lalu. 

Kemudian sedikit demi sedikit Cikapundung terus dibenahi di masa pemerintahan
Walikota Ridwan Kamil dengan membersihkan dan mempercantik sungai yang
membelah Kota Bandung ini. Gebrakan yang telah dilakukan pihak Pemkot Bandung tersebut, sebenarnya memiliki arti penting dalam memberdayakan fungsi sungai ini sebagai suatu kawasan yang perlu mendapat perhatian 
dan pengembangan.

Langkah awal yang telah dirintis tadi, sudah seharusnya mendapat dukungan dari semua warga Kota Bandung. Jangan sampai suasana kusam dan kelam kembali menghiasi Sungai Cikapundung. Sehingga derita panjang sungai ini seperti tiada akhir. Andai sungai ini bisa ngomong, tentu dia akan protes terhadap berbagai perlakuan kurang baik dan kurang menyenangkan yang diterimanya. Namun apalah dayanya, dia hanya sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah lainnya oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab. (AY)

.

Categories:Wisata,
Tags:seni,