Efek Pertalite pada Kendaraan Masih Perlukan Penelitian

Efek Pertalite pada Kendaraan Masih Perlukan Penelitian

Jakarta - Meski PT Pertamina mengklaim bahwa Pertalite telah mendapatkan tempat bagi konsumen di Indonesia, pengaruh dan efek samping terhadap kendaraan masih memerlukan kajian dan penelitian lebih mendalam. Namun, sejauh ini pemerintah boleh saja menyatakan sudah sekitar 12 persen BBM itu dilemparke pasaran. 
 
Bahkan, menurut Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, banyak konsumen Premium RON 88 dan Pertamax, bermigrasi menggunakan BBM baru tersebut. Konsumen Premium yang bergeser ke Pertalite tercatat lebih dari 10 persen dari total konsumen Pertamina. 
 
Sebab pergeseran kualitas Pertalite lebih dari dibandingkan Premium, pengguna Pertamax lebih sedikit yang beralih ke Pertalite yaitu sekitar satu persen. "Yang pindah itu mayoritas dari Premium," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang di Jakarta, Rabu (5/8/2015).
 
Berdasarkan data Pertamina, penjualan Premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) per harinya mencapai 19,06 kilo liter (KL), Pertalite 3,2 KL per hari, Pertamax RON 92 sebanyak 4,3 KL, dan Pertamax Plus RON 95 sebanyak 0,46 KL per hari.
 
Sejauh ini, pangsa pasar premium masih terbesar dalam penjualan BBM Pertamina, yaitu 71 persen. Disusul Pertamax sebesar 16 persen, Pertalite 12 persen, dan Pertamax Plus mencapai dua persen. 
 
Sementara itu, Menurut Dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, Muhammad Nur Yuniarto berpendapat, memiliki kandungan Research Octane Number (RON) 90, Pertalite diklaim tidak mengandung timbal dan unsur logam, sehingga lebih bagus dibandingkan bahan bakar minyak jenis Premium yang memiliki RON 88.

Tentunya, banyak pemilik kendaraan yang kini pasti bertanya, bagaimana pengaruhnya bagi kendaraan jika mengonsumsi Pertalite, Jika dilihat dari RON, Pertalite merupakan bahan bakar minyak lebih baik dibandingkan Premium. Dengan begitu, tentunya akan memberikan pengaruh lebih baik terhadap kinerja pembakaran mesin.

“Untuk tahap awal, performa pasti akan lebih baik bila dibandingkan dengan Premium. Namun, kita masih perlu adanya penelitian mengenai kualitas pembakarannya. Walaupun, bila dilihat dari RON-nya, Pertalite lebih baik dari Premium,” katanya.

Ia menyatakan, perlu adanya kajian dan  penelitian lanjutan atau lebih mendalam mengenai usia kendaraan jika mengkonsumsi bahan bakar Pertalite. “Kita harus meneliti lagi, apakah bahan bakar Pertalite menimbulkan kerak pada mesin, sehingga dapat berpengaruh pada usia kendaraan,” tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Ekonomi,
Tags:,