Salam Sunda Sampurasun 'Menggema' di Markas PBB

Salam Sunda Sampurasun 'Menggema' di Markas PBB

New York - Mewakili Indonesia untuk berbicara di Forum Pemimpin Muda Dunia di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi membahas tentang penguatan basis tradisional pedesaan dengan sistem pendidikan berkarakter Sunda, Selasa waktu setempat.
 
Di hadapan 700 peserta dari 90 negara Bupati pun tidak mengenakan pakaian dinas, tetapi busana tradisional masyarakat Sunda yang disebut pangsi, lengkap dengan iket alias ikat kepala khas Sunda. Para peserta antara lain mahasiswa strata satu dan pascasarjana, kalangan politikus dan pebisnis, serta perwakilan PBB. 
 
Dedi membuka pidatonya tidak dengan ucapan selamat pagi atau good morning, melainkan "sampurasun", frasa bahasa Sunda yang dapat bermakna salam penghormatan. “Sampurasun,” katanya, kepada hadirin seraya merapatkan kedua telapak tangannya di dada dan setengah membungkuk.
 
Dia pun tak banyak basa-basi dan segera fokus memaparkan, Pemerintah Kabupaten Purwakarta memang berkomitmen sistem pendidikan berkarakter atau berbasis tradisi dan kebudayaan Sunda. “Sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis budaya, peternakan, perikanan, pertanian, kehutanan, dan industri kreatif, kita membangun melalui sistem yang berbasiskan budaya, di mana di desa dibangun atas kekuatan tradisi yang kuat,” ujarnya.
 
Ia menerbitkan Peraturan Bupati tentang Pendidikan Berkarakter, yang di dalamnya tersirat perintah membangun kekuatan generasi yang mandiri dan produktif. “Seperti waktu masuk sekolah jam enam pagi, membuat tas sendiri, bersepeda, berpuasa seminggu dua kali, lalu teknologi sebagai bagian penyempurnaan untuk melakukan penguatan terhadap basis tradisi sehingga memiliki daya saing pasar,” katanya.
 
Disebutkan, kondisi yang sebenarnya penggunaan teknologi hanya menjadi sarana konsumtif. Masyarakat kian mudah menjual tanah mereka hanya demi keperluan konsumtif. “Pedesaan kehilangan daya dukung. Lahan yang tadinya produktif, mulai terjual hanya untuk pemenuhan nafsu konsumtif, yang akhirnya bahan pokok harus beli, seperti beras, telur, daging bahkan jengkol,” katanya.
 
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten mencoba menyiasati perilaku konsumtif masyarakat setempat dengan tetap memperkuat atau membangun kembali basis tradisional. Kelestarian tradisi itu penting agar menjadi bagian dari ketahanan, terutama dalam menjaga kekuatan bangsa. (Jr.)**
.

Categories:Bandung,
Tags:,