Pilot di Jabar Kalah Jam Terbang

Pilot di Jabar Kalah Jam Terbang

Bandung - Pilot terbang layang Pelatda PON XIX/2016 Jawa Barat kesulitan mengimbangi latihan terbang atlet daerah kompetitornya karena terkendala biaya terbang yang cukup mahal.

"Kami hanya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bisa latihan terbang, intensitasnya jelas di bawah kesempatan terbang atlet lainnya yang juga berlatih di Lanud Suryadharma Kalijati Subang ini," kata Pelatih Terbang Layang PON XIX/2016 Jabar Asep Suwarga ketika dihubungi, Rabu (19/8/2015).

Menurut dia, Jabar saat ini telah menyiapkan empat atlet putra dan empat atlet putri untuk turun pada cabang olahraga dirgantara itu. Para atlet didampingi oleh dua pelatih.

Pekan lalu kami hanya berkesempatan terbang empat kali. Ia menyebutkan biaya latihan terbang layang cukup mahal karena untuk sekali menarik pesawat dengan pesawat penarik membutuhkan biaya Rp350 ribu.

"Sepekan kemarin pilot kita masing-masing baru melakukan latihan empat kali terbang. Sedangkan atlet lain yang berlatih di sini sudah ada yang sampai sepuluh kali terbang lebih," kata Asep.

Saat ini atlet dari sejumlah daerah sudah berlatih di Lanud Kalijati Subang yang akan menjadi tempat pelaksanaan pertandingan terbang layang PON XIX/2016. Daerah itu antara lain DKI Jakarta, Yogyakarta, Jatim, Kaltim dan Papua. Daerah itu merupakan kekuatan terbang layang nasional saat ini.

"Kami tetap berusaha untuk bisa maksimal, meski itu tadi biayanya cukup mahal. Kami sudah sampaikan permasalahan ini ke KONI Jabar," katanya.

Ia menyebutkan, pihaknya tetap menjaga spirit atlet untuk tetap menjaga peluang. Tim pelatih dan atlet berupaya menyiasati kondisi yang ada dengan tetap melakukan latihan dan pemantauan kekuatan lawan yang hampir tiap hari berlatih di lapangan udara itu.

"Dari peta kekuatan lawan tampaknya masih tetap sama, pilotnya masih sama, namun ada pesawat baru seperti DKI Jakarta dan Papua. Itu sangat berpengaruh terhadap akselerasi," katanya.

Ia menyebutkan, pesawat tipe baru akan lebih mudah bermanufer dan mengejar termal dibandingkan dengan pesawat tua seperti yang digunakan oleh atlet Jabar.

"Untuk bermanuver naik guna mendapatkan thermal pesawat baru lebih cepat, selisihnya cukup jauh. Namun faktor lucky juga berpengaruh," katanya.

Asep menyebutkan, saat ini Jabar memiliki dua pesawat yakni pesawat tunggal dan doble yang digunakan bergantian oleh atlet yang akan turun pada nomor ketepatan mendarat, duration dan cross country.

"Saat ini kami bersiap untuk ikut di Kejurnas yang rencananya digelar akhir Agustus ini di Subang," kata Asep menambahkan. (AY)

.

Categories:Olahraga,
Tags:,