BNN Musnahkan 6 Kg Sabu dan 1.272 Butir Ekstasi

BNN Musnahkan 6 Kg Sabu dan 1.272 Butir Ekstasi

BNN Musnahkan 6 Kg Sabu dan 1.272 Butir Ekstasi. (Foto: Net)

Jakarta  - Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan enam kilogram sabu dan 1.272 butir ekstasi yang berasal dari pengungkapan tiga kasus narkoba.

Dari siaran pers di Jakarta, Senin (03/11/2014), disebutkan BNN berhasil menyita 6.116,02 gram sabu dan 1.292 butir ekstasi.

Sesuai dengan peraturan yang berlaku, sebelum barang bukti tersebut dimusnahkan, disisihkan dulu sebanyak 113,5 gram sabu (sampel diambil dari 6 kemasan narkotika) dan 20 butir ekstasi guna kepentingan uji laboratorium dan pembuktian perkara di persidangan sehingga total barang bukti yang dimusnahkan adalah 6.002,52 gram sabu dan 1.272 butir ekstasi.

Seluruh barang bukti tersebut merupakan hasil dari pengungkapan tiga kasus narkotika.

Kasus pertama yakni penangkapan seorang pria bernama Ronald (31) saat mengambil paket di sebuah perusahaan jasa titipan kilat di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (7/10). Saat dilakukan pemeriksaan paket asal Selangor Malaysia tersebut berisi 148 gram sabu yang disimpan didalam klakson mobil.

Kepada petugas, Ronald yang juga seorang pecandu, mengaku nekat menjadi kurir karena terbelit utang pada seorang bandar.

Bandar tersebut berjanji pada Ronald akan membebaskan seluruh utangnya dan memberi bonus 2 gram sabu jika berhasil mengirimkan barang tersebut.

Dia mengatakan barang tersebut akan diserahkan pada seseorang yang berdomisili di daerah Balong, Surakarta yang selama ini dikenal sebagai kawasan zona merah narkoba.

Atas perbuatannya, Ronald dijerat dengan pasal 114 ayat (2), Pasal 113 ayat (2), dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.

Sementara kasus kedua yakni keterlibatan buruh pabrik botol dalam jaringan narkotika internasional.

Petugas BNN mengamankan Yeni (31) alias Selfi beserta suaminya, Miftah (25), di kawasan Kampung Pisang, Karang Sari Neglasari, Tangerang, Kamis (09/10/2914).

Dari rumah mereka, petugas berhasil menyita narkotika jenis sabu seberat 5.915 gram. Yeni mengaku barang haram tersebut dikirim dari Tiongkok dan ditujukan ke alamat rumah atas nama Yeni.

Setelah ditangkap, seorang pembeli masih melakukan komunikasi dengan Yeni. Petugas langsung melakukan controlled delivery di sekitar Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta Timur, Kamis.

Setelah Yeni menyerahkan barang kepada Andre seberat 100 gram, petugas langsung menciduk Andre. Pria ini ternyata merupakan anak dari seorang residivis kasus narkoba bernama Cindy Natalia yang pernah ditangkap BNN beberapa tahun lalu.

Dua hari berselang, Sabtu (11/10/2014) seorang pria memesan sabu pada Yeni dan mengajak bertemu di sekitar PGC. BNN selanjutnya melakukan controlled delivery dan akhirnya bisa meringkus Wawan alias Toni sesaat setelah menerima sabu seberat 300,5 gram dari Yeni. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap Wawan, diketahui pengendalinya adalah Karno.

BNN selanjutnya mengamankan Karno di rumahnya di Bogor.

Yeni mengaku, sebelumnya, pada bulan Juni 2014, ia pernah mengambil sabu di daerah Pasar Ular, Jakarta Utara, seberat 5 kilogram dan mendapat upah senilai Rp60 juta.

Keterlibatan Yeni dalam jaringan narkotika ini berawal dari perkenalannya dengan seorang WN Nigeria CU (DPO). CU memiliki kaki tangan bernama B (WN Nigeria) yang bertugas mengendalikan peredaran barang. Selama ini, aksi yang dilakukan Yeni atas petunjuk B.

Kemudian petugas BNN berhasil mengamankan B di sebuah kost di Gamping, Sleman, Yogyakarta pada Kamis (9/10). Sedangkan pengendali utama yaitu CU hingga saat ini, masih dalam pengejaran petugas BNN.

Atas perbuatannya seluruh tersangka terancam pasal 114 ayat (2) dan 112 ayat (2) Jo 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal pidana pati atau penjara seumur hidup.

Kasus terakhir yang berhasil diungkap BNN adalah penyelundupan 1.292 butir ekstasi yang melibatkan seorang wanita bernama Zahara Meutia alias Tia (32) dan rekannya Julifan (34). Keduanya diamankan petugas pada hari Kamis 9 Oktober 2014 setelah melakukan transaksi di dalam mobil yang di bawa Julifan saat menjemput Tia di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

Tia diamankan petugas di sebuah kamar kos, Jl. Pendidikan, Cijantung, Jakarta Timur, sementara Julifan diamankan petugas di kawasan Kramatjati, Jakarta Timur.

Saat menggeledah kamar kos Tia, petugas menemukan satu bungkus kristal bening seberat 53,02 gram dan 1.292 butir ekstasi seberat 381 gram yang disembunyikan di bawah bantal tidur miliknya.

Tia mengaku bahwa sabu yang ada padanya adalah titipan seorang pria berinisial D (DPO), sedangkan ribuan pil ekstasi tersebut adalah barang yang baru saja diambilnya dari Julifan, atas perintah D.

Tia mengatakan sudah tiga kali mengambil paket narkoba atas perintah D.

Paket pertama diambilnya di sebuah perusahaan jasa titipan pada 19 September 2014. Saat memeriksa isi paket, Tia menemukan sabu didalamnya. Tia sempat menanyakan kepada D tentang paket sabu tersebut, namun D meminta Tia untuk menyimpannya dan memberikan upah sebesar Rp500 ribu.

Pada 5 Oktober, Tia kembali diperintah oleh D untuk mengambil paket dari Julifan di Depok dan mengirimkan kembali paket tersebut ke Lampung. Kali ini Tia menerima imbalan sebanyak Rp1 juta.

Kemudian Tia kembali diperintah untuk mengambil paket dari Julfian hingga akhirnya keduanya diamankan oleh petugas BNN.

Berbeda dengan Tia, Julifan mengaku mendapat perintah melalui telepon dari seseorang yang mengaku bernama Dun (DPO). Ia diminta untuk mengambil sebuah bingkisan putih di pinggir jalan di kawasan Juanda, Depok. Di dalam bingkisan tersebut terdapat satu kotak makanan dan satu bungkus rokok. Setelah Julifan mengambil bingkisan tersebut, Dun kembali menelpon dan meminta Julifan menyimpan bungkus rokok dan menyerahkan kotak makanan tersebut kepada Tia.

Julifan sendiri tidak mengenal sosok Dun, karena Dun adalah orang suruhan N (DPO), teman yang ia kenal tahun 2011 lalu saat bekerja sebagai sopir angkot di Depok.

Julifan mengaku menerima upah dari N sebesar Rp700 ribu. Transaksi pertama Julifan dengan Tia pun juga atas perintah N. Saat itu Julifan menerima imbalan sebesar Rp500 ribu.

Atas perbuatannya Tia dan Julifan terancam Pasal 112 ayat (2) dan Pasal 114 ayat (2) Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:nasional,