Tangis dan Doa Kenang 13 Tahun Bom Bali I di Ground Zero

Tangis dan Doa Kenang 13 Tahun Bom Bali I di Ground Zero

Tanggal 12 Oktober 2015, genap 13 tahun tragedi bom Bali I

Kuta Tepat pukul 23.00 Wita, Senin 12 Oktober 2002 di Jalan Raya Legian, Kuta, Bali secara tiba-tiba tiga bom meledak menghancurkan kawasan itu. Lebih dari 200 jiwa melayang dalam peristiwa itu, sedangkan korban luka mencapai 209 orang yang tersebar dalam radius 6 kilometer dari lokasi ledakan. 
 
Kini, 13 tahun berselang, puluhan keluarga korban Bom Bali mendatangi monumen "Ground Zero" di Legian, Kuta, Senin (12/10/2015), guna memperingati kejadian tersebut. Di tempat itu pula terukir nama-nama korban bom Bali. Mereka tak kuasa menahan air mata saat berada di tempat itu, mengingat sanak saudara dan kerabatnya yang jiwa tak tertolong akibat ledakan dahsyat itu.

Sejumlah anak yang orangtuanya tewas dalam kejadian itu juga turut hadir dalam peringatan 13 tahun bom Bali tersebut. Saat kejadian mereka masih kecil, dan kini mulai beranjak remaja. Mereka menangis mengenang orangtuanya ketika berada di monumen itu.
 
"Dulu saya tak tahu apa-apa. Saya hanya tahu cerita dari paman dan saudara-saudara. Ibu tidak pernah mau cerita dan mengingat masa kelam itu. Ayah saya mati di tempat ini bertugas jaga di bar," kata Ayu, yang saat peristiwa itu terjadi dia baru berumur 3 tahun.
 
Dengan membawa bunga, canang, dan dupa, para keluarga korban tampak hening melakukan doa. Bahkan sejumlah turis asing, khususnya warga Australia juga turut berbaur. Dalam daftar monumen korban bom Bali I itu menelan 202 korban. Sebanyak 38 di antaranya warga Indonesia, dan 164 turis asing yang tengah menikmati hiburan malam di kawasan Sari Club (SC) dan Paddy's Cafe, Kuta Bali.
 
Tak ada lagi bantuan
Sementara itu, Ketua Yayasan Isana Dewata, sebuah lembaga yang menaungi perkumpulan korban bom Bali, Ni Luh Erniati mengatakan selama ini tidak ada bantuan yang berkesinambungan dari pemerintah kepada para korban. "Sudah tidak ada lagi bantuan. Dari pemerintah itu hanya sesekali, dan semua bantuannya putus, tidak secara contiunue,” katanya.
 
Hal itu juga diakui Penasihat Isana Dewata, Raden Supryo Laksono, yang istrinya juga tewas dalam insiden itu. "Dulu ada bantuan dari pemerintah tapi tidak continue. Sekarang ini anak-anak kita memang mendapatkan bantuan beasiswa, tapi itu bukan dari pemerintah, tapi dari Yayasan Kasih Ibu Pertiwi,” ujarnya.
 
Setelah istrinya tewas, Supriyo pun sangat berkabung. Bebannya semakin berat karena harus mendidik anak-anaknya sendirian. "Bagaimana tidak sedih, saat itu anak-anak saya juga masih kecil-kecil. Istri saya meninggal akibat keegoisan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” keluhnya.
 
Menurut Supriyo, korban bom Bali telah dijadikan sebagai bahan kampanye pemilu. Jika musim pemilu datang, para politikus selalu menjanjikan bantuan. Misalnya berupa biaya sekolah keluarga korban. "Waktu ada kampanye politik, itu mereka janji akan memberikan bantuan atau apalah, tapi realisasisnya tidak ada,” katanya.
 
Pasca-ledakan bom Bali, pemerintah membangun monumen peringatan. Pada monumen itu tertulis nama-nama korban tewas. Turis asing yang melintasinya kerap berhenti sejenak. Lalu mendoakan mereka yang sudah tewas. Dubes Australia Paul Grigson  pun sempat memanjatkan doa untuk korban di Monumen Perdamaian atau Groud Zero di Legian, Kuta, Kabupaten Badung.
 
Didampingi istri, kedatangan Dubes Grigson ke monumen itu langsung menarik perhatian wisatawan asal Australia lainnya yang tengah berlibur ke Bali. Ia menaruh karangan bunga tepat di Monumen Bom Bali atau Ground Zero. Ia pun menunduk dan memejamkan mata untuk memanjatkan doa singkat bagi para korban.
 
Grigson memuji sistem pertahanan di Indonesia, terutama di Bali yang semakin maju. Ke depan Australia akan lebih meningkatkan kerja sama dengan Indonesia, meski selama ini sudah cukup bagus. "Warga negara kami yang berkunjung ke Bali tidak khawatir seperti sebelumnya," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,