Jokowi Tak Diakui sebagai Presiden? Kasian Deh Lo

Jokowi Tak Diakui sebagai Presiden? Kasian Deh Lo

Jakarta - Spanduk bertuliskan "Selamat Datang Ibu Presiden Megawati Soekarnoputri"  terpampang di Gedung Busan Indonesia Center, Korea Selatan (Korsel). Ini bukti, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), masih dianggap sebagai kepala negara di Indonesia.
 
Menurut anggota Komisi I DPR Elnino M. Husein Mohi, pihak kepolisian harus bertindak guna menindaklanjuti spanduk sesat itu. Sebab, hal itu telah mencoreng nama Jokowi sebagai kepala negara yang sah periode 2014-2019. "Kalau spanduknya benar-benar ada, maka polisi atau atase pertahanan di kedutaan (Korea Selatan) harus menyelidiki, kenapa sampai terjadi hal seperti itu," katanya, Rabu (14/10/2015). 
 
Elnino pun mengaku prihatin dengan Jokowi, dengan adanya lapisan masyarakat di Korea Selatan yang tidak mengakui sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai Presiden RI.Terlebih pemerintah tengah berusaha mengajukan pasal penghinaan terhadap presiden, masuk ke dalam revisi Undang-Undang (UU) KUHP.
 
"Kasian deh Jokowi, sekarang ini dia justru tengah berusaha ada undang-undang khusus penghinaan presiden, eh sekarang malah dihina lagi seperti itu," kata politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu.
 
Diberitakan sebelumnya, pemilik akun Facebook bernama Jonru mengunggah foto spanduk bertuliskan "Selamat Datang Ibu Presiden Megawati Soekarnoputri di Busan Indonesia Centre" Korea Selatan di Facebook. Spanduk itu tertera penyambutan 18 Oktober 2015. Atas postingan yang dilakukan Jonru, foto spanduk itu disukai oleh 11.845 orang dan dibagikan kepada 4.622 pengguna media sosial lainnya.
 
Di jejaring media sosial Twitter misalnya, banyak netizen mencemooh adanya spanduk itu, mereka pun akhirnya menggunakan hastag atau tanda pagar #JokowiAdalahMega untuk menyindirnya. 
 
Secara psikologis masih merasa sebagai presiden
 
Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Desmond J Mahesa menilai, pemasangan spanduk di pintu pusat informasi wisata dan bisnis Indonesia di Kota Busan, Korsel, merupakan sebuah bentuk sikap dari warga Korsel yang menganggap Megawati sebagai Presiden RI. Sebab Megawati pernah mengutarakan, dirinya lebih tinggi dari seorang Presiden saat pidato di Kongres PDIP beberapa waktu lalu.

"Itu simbolisasi, masyarakat Korea menganggap Megawati lebih berkuasa ketimbang Jokowi, atau ini memang mereka paham bahwa psikologis Megawati dia sebagai Presiden. Seperti pidato dia di PDIP dulu, dia merasa seperti Presiden. Nah inilah psikologis yang dipahami masyarakat Korea. Mungkin dia ingin menyenangkan hati Megawati. Kalau menyenangkan hati orang kan pahala," kata Desmond.

Namun, dia tidak mengetahui apakah di Korsel tidak terbiasa menulis kata 'mantan' sehingga spanduk itu tertulis, Megawati Soekarnoputri adalah seorang Presiden. Terlebih, hal itu merupakan hal yang biasa dan tak berdampak pada kehidupan politik di Indonesia. "Jangan-jangan bahasa mantan di Korea itu tidak ada. Ini biasa saja, karena tidak akan berdampak ke kita, ke politik kita," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Politik,
Tags:,