Segera Laporkan Kekerasan terhadap Anak!

Segera Laporkan Kekerasan terhadap Anak!

Jakarta - Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait meminta, agar siapapun yang melihat tindakan kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak untuk segera melaporkannya kepada Komnas Perlindungan Anak.

Terlebih saat ini, kasus kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak dalam pemberitaan muncul kian bervariasi. Namun disayangkan, sangat minim informasi yang mengedukasi masyarakat bagaimana mencegah dan alur mekanisme pelaporan, jika terjadi kasus atau dugaan tindakan kekerasan anak.

Arist menekankan pentingnya dibangun alur penanganan dan sistem rujukan yang dibuat pemerintah bersama lembaga terkait untuk mencegah dan menyelamatkan anak dari tindak kekerasan dan kejahatan seksual, kemudian digencarkan sosialisasi dan edukasi, sehingga masyarakat paham. 

"Alur sistem rujukan yang dibuat harus mewakili kekuatan peran masing-masing lembaga terkait yang terkoordinasi, untuk mencegah tindakan-tindakan semacam itu sehingga anak dapat terselamatkan," katanya di sela-sela seminar deteksi dini penanganan kekerasan terhadap anak di RS Jiwa Soeharto Heerdjan di Jakarta.

Menurutnya, alur ini nantinya bisa dijadikan contoh oleh masing-masing lembaga dan multi disiplin misalnya guru di sekolah bagaimana alur tata laksana pelaporan, penanganan jika terjadi kasus juga jika muncul dugaan adanya tindak kekerasan terhadap anak di lingkungannya.

Selain itu, didalam masyarakat pun perlu dibentuk tim reaksi cepat perlindungan anak yang ada di tingkat RT, fungsinya menyusun tata tertib terkait hal ini. Jika ditemukan masyarakat di dalamnya melakukan kekerasan akan diberikan sanksi sosial sesuai yang telah disepakati.

Ia mencontohkan pada kasus Angeline beberapa waktu lalu, pemberitaan yang muncul mengisyaratkan bahwa Angeline selama diasuh oleh ibu angkatnya telah seringkali mendapatkan perlakuan kekerasan. Namun sejumlah pihak menyayangkan, karena meskipun sudah muncul kecurigaan dari guru dan tetangga bocah ini mengalami kekerasan, tetapi tetap saja Angeline tidak bisa ditolong.

"Ini terjadi karena guru atau tetangga tidak tahu bagaimana mekanisme pelaporan untuk menyelamatkan Angeline meskipun sudah sering mendengar atau mendapati Angeline menangis, tetapi akhirnya tidak tahu harus berbuat apa, karena sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang hal ini sangat minim," ungkapnya.

Selain itu, perangkat hukum yang sangat bagus yang dimiliki Indonesia di antaranya UU tentang perlindungan anak belum berjalan dengan baik dalam upaya melindungi anak dari tindak kekerasan. DPR sendiri dinilainya kurang melakukan kontrol terhadap UU yang telah dibuat apakah sudah dijalankan dengan baik atau belum. "Belum ada mekanisme atau sistem pelaporan untuk perlindungan anak padahal Undang-undang perlindungan anaknya sudah sangat bagus," ungkapnya. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:,