Siswi Jepang Terlibat 'Kencan Berbayar' Jadi Polemik

Siswi Jepang Terlibat 'Kencan Berbayar' Jadi Polemik

Tokyo - Pemerintah Jepang mendesak untuk menarik komentar dari seorang utusan PBB yang menyebutkan, 13 persen siswi-siswi di Jepang terlibat bentuk kencan berbayar yang melibatkan kegiatan seksual.
 
Pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang menyatakan, mereka telah menginformasikan kepada kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi PBB terkait komentar yang dikeluarkan seorang utusan di Tokyo pada 26 Oktober 2015. Hal itu sebagai sesuatu yang tidak pantas dan sangat disayangkan.
 
"Jelas, hal itu tidak dapat diterima, utusan tersebut mengutip informasi yang tidak memiliki sumber kredibel," demikian sebuah pernyataan Kemlu Jepang.
 
Dikutip dari Japan Times, Selasa (10/11/2015) pada saat itu, Maud de Boer Buquicchio, seorang pelapor khusus perdagangan, prostitusi, dan pornografi anak PBB untuk Jepang menyinggung fenomena ‘Enjo Kosai’ di Jepang. Istilah itu sering diterjemahkan sebagai "kencan berbayar" dalam sebuah konferensi pers.
 
"Sekitar 13 persen siswi-siswi di Jepang terlibat dalam kegiatan tersebut, yang kemungkinan dimulai dengan aktivitas yang relatif biasa, seperti berjalan bersama dengan seorang pria," kata Buquicchio. Dalam ‘Enjo Kosai’ yang muncul sekitar tahun 1990-an, pria yang lebih tua membayar gadis remaja sebagai teman kencan yang dapat melibatkannya dalam kegiatan seksual. 
 
Sementara singkatan ‘JK’ (sebuah singkatan bahasa Jepang untuk siswi SMA), lebih mengarah kepada praktek yang lebih terorganisir dan sistematis. Para siswi dapat memberikan pijatan, tidur dengan pria, atau pergi jalan-jalan bersama. (Jr.)**
.

Categories:Unik,
Tags:,