Kenaikan BBM Berdampak Buruk Bagi Perekonomian

Kenaikan BBM Berdampak Buruk Bagi Perekonomian

Pengamat Ekonomi STIE INABA Hj Nunung Ayu Sofiati, menilai kebijakan penaikan BBM tidak tepat, Jumat (7/11/2014).

Bandung - Terkait kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan oleh pemerintahan Jokowi-JK dinilai kurang tepat, melihat dampak  krisis global yang akan berpengaruh terhadap perekonomian dan sosial masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan pengamat Ekonomi STIE Inaba,Nunung Ayu Sofiati di Kampus STIE INABA Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung Jumat (7/11/2014).

Dirinya menjelaskan, walau menteri ESDM  Sudirman Said mengatakan bahwa kenaikan BBM bukan berarti mengurangi subsidi BBM, kenaikan tersebut beralih dari subsidi konsumtif menjadi subsidi produktif. Tetapi bagi rakyat, wacana kenaikan BBM membuat masyarakat resah, khususnya bagi mereka yang berpenghasilan rendah. 

"Akibat dari kenaikan BBM ini juga biasanya membuat nilai tukar dolar AS meningkat dan apabila harga dolar AS meningkat, harga produksi akan meningkat sekitar 15%," ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Nunung, akan berdampak pada kenaikan kebutuhan bahan pokok lainnya, karena sekitar 70% bahan baku industri makanan dan minuman masih diimpor, dan dengan gaji UMR rakyat pasti kebingungan mengatur neraca keuangan mereka.

"Yang jelas neraca keuangan mereka pun menjadi defisit, tetapi kehidupan tetap berlanjut. Dengan keikhlasan mereka mau tidak mau harus mengurangi semua anggaran/budget yang ada. Biasanya beli beras satu karung per bulan, mungkin kini mereka harus mengganti menu beras dengan beli singkong, belum anggaran-anggaran lainnya, biaya hidup bulanan, listrik, uang sekolah anak, dan lain-lain," pungkasnya.

.

Categories:Ekonomi,
Tags:bandung,