Buntut Kerusuhan dan Kebakaran Kalapas Benceuy Dicopot

Buntut Kerusuhan dan Kebakaran Kalapas Benceuy Dicopot

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy Bandung Agus Irianto. (foto - ist)

Jakarta - Berdasarkan hasil evaluasi tentang insiden kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkoba Kelas II A Banceuy di Jalan Soekarno Hatta Bandung, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mencopot Kepala Lapas Banceuy Bandung, Agus Irianto dari jabatannya. 

"Kalapas Banceuy Agus Irianto digantikan oleh wakilnya,” kata Yasonna di Gedung Kemenkumham, Jakarta, Selasa (26/4/2016). Selain itu, pemeriksaan terhadap empat petugas Lapas Banceuy terkait kerusuhan dan pembakaran pun masih terus dilakukan.

"Kita hormati hukum, biar saja diproses polisi. Nanti secara internal kita juga akan memeriksa," katanya. Sementara sebanyak 20 tahanan telah dipindahkan ke Lapas Kelas IIB Garut. Mereka akan menempati ruang karantina, sebelum masuk areal Lapas Garut. "Dipindahkan ke Lapas baru, yang berkapasitas 400," tegas Yasonna.
 
Atas dasar peristiwa itu, Menkumham akan terus melakukan pengetatan Lapas Narkoba ,dan melakukan tes pada semua petugas dan tahanan narkoba secara berkala. "Surat edaran sudah. SOP sudah ada sebelumnya tetapi melihat perkembangan terakhir dibuat yang baru lagi".
 
Teleconference secara tertutup?
 
Berkaitan dengan itu, Yasonna Laoly pun langsung melakukan percakapan jarak jauh atau teleconference, dengan seluruh kepala lembaga pemasyarakatan di Indonesia secara tertutup.
 
Rapat itu dilakukan untuk mengantisipasi berbagai peristiwa kerusuhan di lembaga pemasyarakatan, yang terus terjadi beberapa bulan ini. "Tadi ada 200 Kalapas teleconference, dan ada 27 Kakanwil (Kepala Kantor Wilayah Menkumham)," katanya.
 
Menteri meminta, agar semua kalapas menyikapi kerusuhan dengan cara yang tidak emosional. "Tadi memang khusus mengingatkan agar semua menjalani protap yang baik, jangan emosional dan dengan kekerasan," katanya.
 
Ia juga menginstruksikan semua kepala lapas dalam menindak dan melakukan razia dilakukan dengan tenang. Hal itu untuk memastikan keamanan petugas dan menghindari kerusuhan. "Operasi harus tetap dilakukan. Kalau ada reaksi dan provokator, ambil dulu satu orang yang menjadi provokator," bebernya. 
 
Sejauh ini, Yasonna tak menjelaskan mengapa teleconference dengan kalapas seluruh Indonesia itu berlangsung tertutup. Padahal sebelumnya diinformasikan, teleconference akan dilakukan secara terbuka. "Itu cuma masalah teknis saja," katanya berdalih. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,