Peserta SBMPTN 2016 Termuda Berniat Pecahkan Rekor

Peserta SBMPTN 2016 Termuda Berniat Pecahkan Rekor

Musa Izzanardi Wijanarko (Izzan - 13 tahun), peserta ujian seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) termuda di Kota Bandung. (foto - ist)

Bandung - Musa Izzanardi Wijanarko, peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 yang baru berusia 13 tahun itu berniat mencatatkan rekor. Ia ingin menjadi mahasiswa termuda, yang diterima masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
 
Sejauh ini, rekor mahasiswa termuda dipegang salah seorang mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berusia 14 tahun. "Ya pengin mecahin rekor. Pemegang rekor (mahasiswa termuda berusia 14) jadi motivasi tersendiri," kata Izzan, sapaan akrabnya. Usia 13 tahun bagi Izzan, tampaknya  bukan masalah untuk menjadi seorang mahasiswa.
 
Apalagi ia selama ini belajar lewat metode home schooling dan belajar dengan matang. Mata pelajaran Matematika dan Fisika yang jadi favoritnya pun sudah "dilahapnya". Meski masih berusia layaknya anak SMP, Izzan mampu menyelesaikan soal setingkat anak SMA, bahkan tingkat kuliah.
 
Sebab, metode belajar home schooling membuatnya lebih cepat menyerap mata pelajaran. Bahkan ia "meloncat" lebih cepat dari sekolah yang ditempuh secara normal. "Di usia delapan tahun, Izzan sudah belajar mata pelajaran setingkat SMA," kata ibunda, Yanti Herawati (45).
 
Menurutnya, sejak kecil anaknya memang memiliki minat yang tinggi dalam pelajaran Matematika hingga Izzan benar-benar mendalami pelajaran itu. 
Selain itu, ia senang dengan mata pelajaran Fisika. Namun, ia kurang tertarik dengan Fisika yang berlaku secara umum. Ia justru lebih senang berusaha menciptakan rumus, daripada belajar menggunakan rumus yang sudah ada.
 
Remaja kelahiran Bandung 24 Oktober 2002 itu pun memiliki keahlian bermain piano, yang dipelajarinya sejak kecil. Ia kini sedang aktif belajar bahasa Rusia. 
"Anak saya lebih banyak belajar itu secara otodidak. Dia enggak ikut bimbingan belajar. Dia suka buku sendiri dan belajar otodidak," aku Yanti.
 
Tampaknya ada alasan yang melatarbelakangi anaknya memilih belajar dengan metode home schooling. Berdasarkan hasil psikotes saat ia berusia 6 tahun, psikolog menyarankan masuk sekolah internasional atau ke luar negeri. Pilihan kedua belajar dengan metode home schooling. "Saat itu pilihannya yakni home schooling," kata Mursid Widjanarko (45), ayah Izzan.
 
Izzan pun mengikuti ujian kesetaraan paket A, B dan C hingga akhirnya mendaftar ikut SBMPTN. Ia pun mencoba peruntungan dengan mendaftar ke FMIPA ITB, Program Studi Matematika Universitas Indonesia dan Program Studi Fisika Universitas Indonesia.
 
Ketika mengikuti ujian SBMPTN, Izzan tampak begitu serius mengerjakan soal-soal. Di sekelilingnya, puluhan peserta SBMPTN 2016 juga sama tekunnya dalam menjalani ujian. Dengan metode home schooling, kemampuan akademisnya membuat ia layak menjadi peserta SBMPTN 2016.
 
Seperti diketahui, sedikitnya 721.314 alumni SMA dan sederajat bertarung mengikuti ujian SBMPTN 2016. Pihak panitia menyediakan 99.223 kursi di 78 kampus negeri sebagai kuota awal. Angka itu masih bisa bertambah, sehingga peluang calon mahasiswa pun lebih besar. Hasil SBMPTN 2016 akan diumumkan secara  online pada 28 Juni nanti. (Jr.)**
.

Categories:Pendidikan,
Tags:,