Kandungan Air Tinggi, Daging Impor Rugikan Konsumen

Kandungan Air Tinggi, Daging Impor Rugikan Konsumen

Kandungan Air Tinggi, Daging Impor Rugikan Konsumen. (foto - ilustrasi)

Jakarta - Daging sapi beku yang diimpor oleh pemerintah memiliki kandungan air yang cukup tinggi, sehingga berpotensi merugikan konsumen. Daging beku tersebut mengalami penyusutan volume setelah mencair, sehingga konsumen tidak mendapatkan volume daging sesuai yang mereka beli.

"Kandungan air daging beku bisa mencapai 20 persen hingga 30 persen. Jika konsumen membeli satu kilogram daging beku, maka volume dagingnya hanya sekitar tujuh ons hingga delapan ons," kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi  di Jakarta, Sabtu (11/6/2016).

Menurut Tulus, daging beku impor akan mengalami penyusutan volume setelah daging itu mencair. Hal itu jelas akan merugikan konsumen apabila dibeli. "Jadi harga daging sapi beku sebenarnya tidak murah ,karena akan mengalami penyusutan volume yang cukup tinggi," katanya.

Sejauh ini, harga daging sapi segar di pasaran masih cukup tinggi hingga mencapai Rp 120.000 hingga Rp 130.000 per kilogram, yang  mendorong masyarakat untuk beralih ke daging beku. Pemerintah telah berupaya menekan harga daging sapi, salah satunya dengan mengimpor dari Australia, Selandia Baru dan India.

Tulus mengakui, impor daging sapi dari India cukup mengagetkan karena negara tersebut belum bebas dari sejumlah penyakit ternak. Misalnya penyakit mulut dan kaki. Impor daging sapi memang merupakan salah satu solusi paling praktis, untuk menurunkan harga dalam jangka pendek. Hal itu sejalan dengan tuntutan konsumen, yang perlu kepastian harga daging yang lebih terjangkau.

Apalagi, Jokowi telah menargetkan agar harga daging sapi bisa mencapai Rp 80.000 per kilogram, salah satunya dengan membuka keran impor. "Untuk jangka waktu yang sangat pendek, jelas yang akan diimpor adalah daging sapi beku. Sebab, impor sapi bakalan memerlukan waktu tiga bulan hingga empat bulan untuk dipotong," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,