Pembunuh Anggota Parlemen Inggris Terkait Neo-Nazi AS

Pembunuh Anggota Parlemen Inggris Terkait Neo-Nazi AS

Thomas Mair, tersangka pembunuh anggota parlemen Inggris terkait Neo-Nazi AS. (foto - ist)

Birstall - Pelaku penembakan anggota parlemen Britania Raya Helen Joana "Jo" Cox, diketahui sudah lama terhubung dengan organisasi berideologi neo-Nazi di Amerika Serikat. Selain diduga terlibat lembaga independen yang berfokus untuk mengawasi dan menelusuri rekam jejak perilaku ekstremis di Inggris, ia juga menyimpan buku panduan cara merakit senjata sendiri.

Seperti dilaporkan Washington Post, Jumat (17/6/2016) informasi mengenai hal itu dikemukakan oleh polisi setempat dalam proses mencari motif pelaku menembak dan menusuk kader Partai Buruh tersebut. Para tetangga mengenal pria paruh baya itu, sebagai orang yang pendiam dan sangat berbakti kepada ibunya.

Menurut kesaksian keluarganya, Thomas Mair bahkan tidak pernah mengungkapkan pandangan politiknya secara gamblang. Meski diakui memang dia memiliki kepribadian yang obsesif.

Berdasarkan dokumen yang dimiliki Southern Poverty Law Center, organisasi di AS yang berfungsi melacak jejak ekstremis, Thomas Mair merupakan sosok yang sudah lama jadi pendukung Aliansi Nasional, kelompok supremasi garis keras kulit putih di AS. Sama seperti yang ditemukan Watchdog di Inggris, data intelijen AS juga mencatat Mair pernah tertangkap basah membawa buku petunjuk pembuatan pistol.

Dilaporkan, Mair sudah menyumbangkan 620 dolar AS atau Rp 8,2 juta melalui penerbitan buku-buku pedoman merakit senjata. Antara lain berjudul ‘Incendiaries’ yang berisi panduan membuat bom, ‘Chemistry of Powder and Explosives’ mengenai bahan-bahan kimia dari bubuk mesiu dan alat peledak, serta ‘Improvised Munitions Handbook’.

Sementara itu, Daily Telegraph bahkan membeitakan, Thomas Mair adalah pelanggan dari majalah Afrika Selatan terbitan White Rhino Club yang dikenal sebagai grup pro-apartheid.

Seperti diketahui, Tommy Mair ditangkap Kepolisian West Yorkshire pasca-penusukan dan penembakan terhadap Jo Cox. Diduga dia merupakan akvitis anti-Islam dari partai sayap kanan, yakni Britain First. Sebab, beberapa saksi mata setempat mendengar dia menyerukan "Britain First!" sesaat sebelum melancarkan aksinya.

Britain First adalah partai sayap kanan yang seringkali memfasilitasi para demonstran anti-Muslim di Inggris. Namun ketika dimintai keterangan terkait kemungkinan Mair adalah anggotanya, partai tersebut membantahnya. Mereka meyakinkan, tidak pernah sekalipun menyuruh kadernya untuk berbuat senekat itu.

Tewasnya Jo Cox membawa duka mendalam seluruh warga Inggris dan orang-orang di seluruh dunia yang mengenalnya. Politikus berusia 41 tahun itu dikagumi atas kontribusinya pada bidang kemanusiaan, termasuk dalam memperjuangkan diterima masuknya 3.000 anak-anak pengungsi Suriah ke Negeri Ratu Elizabeth itu. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,