Putusan Kasus Freddy Janggal Operasi BNN Dipertanyakan?

Putusan Kasus Freddy Janggal Operasi BNN Dipertanyakan?

Haris Azhar

Jakarta - Koordinator KontraS, Haris Azhar mengungkapkan adanya informasi yang dapat digunakan untuk menelusuri kebenaran testimoni Freddy Budiman. Terpidana mati telah dieksekusi itu menyebut adanya keterlibatan oknum aparat, dalam jaringan peredaran narkoba.
 
Menurut Haris, informasi Freddy dapat ditelusuri dari proses persidangan Muhamad Muhtar, salah satu terpidana penyelundupan 1 kontainer berisi 1,4 juta pil ekstasi pada tahun 2012. Narkoba itu tercatat termasuk jaringan Freddy Budiman, terungkap dari operasi ‘Controlled Delivery’ atau operasi pembuntutan terhadap sasaran yang melibatkan BNN dan Bea Cukai.
 
Namun, Haris menyebut ada sejumlah kejanggalan dalam penggerebekan kontainer tersebut. Salah satunya bagaimana caranya Freddy mengendalikan pengiriman itu, padahal saat itu Freddy tengah berada dalam tahanan di Lapas Cipinang.
 
"Freddy dalam sel, tapi dia bisa kontrol ini semua, apa dia bisa sekadar dapat handphone atau itu mau menunjukkan backup siapa," kata Haris di kantornya.
Sementara itu, Bambang Widodo Umar sebagai anggota Tim Berantas Mafia Narkoba mengkritik soal Controlled Delivery, yang dilakukan oleh BNN dan Bea Cukai saat menangkap kontainer berisi 1,4 juta pil ekstasi itu. 
 
Ia mengatakan, ‘Controlled Delivery’ merupakan pengawasan terhadap pengiriman barang yang diduga narkoba hingga ke pihak penerima. Hal itu bertujuan untuk mengungkap suatu jaringan narkoba. Namun hal itu dinilai ada kejanggalan ‘Controlled Delivery’ pada saat menangkap Muhtar, karena barang masih dalam perjalanan.
 
"Ada kejanggalan yang ditemukan di mana Muhtar di tengah jalan ditangkap. Nah pertanyaannya siapa yang menangkap, dan perintah dari siapa penangkapannya itu. Karena belum sampai pada tujuan kok sudah ditangkap, kan mustinya bisa dipertimbangkan ditelusuri dulu, siapa yang bakal menerimanya nanti," tegas Bambang.
 
Terkait penelusuran mengenai sejumlah kejanggalan yang terjadi, Bambang menyebut pihaknya mendorong agar Presiden membentuk Tim Independen diluar bentukan Polri dan TNI. "Kalau ini bergerak sendiri-sendiri, tim khawatir akan kontradiksi saling menutup atau saling menyalahkan yang lain, karena ada kaitan antara beberapa kegiatan suatu lembaga, karena ini berbeda badan kelembagaan, maka ini lebih baik ditarik di dalam tim independen ini dibentuk Presiden," katanya.
 
Ditambahkan Haris, dengan beberapa informasi yang patut ditindaklanjuti dari berkas Muhtar tersebut, maka Ia mendorong agar Presiden membentuk tim independen. "Tepat dan urgent dibuat tim untuk masuk ke semua lini, dan paling tepat Tim Kepresidenen," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,