Ribuan Warga Berduka & Berdoa atas Tragedi Chapecoense

Ribuan Warga Berduka & Berdoa atas Tragedi Chapecoense

Ribuan warga Chapeco erduka dan memanjatkan doa untuk mengenang tragedi klub Chapecoense. (foto - AP)

Chapeco - Ribuan suporter klub Brasil Chapecoense berkumpul di stadion kota kecil Chapeco. Mereka lengkap dengan membawa atribut hijau dan putih, yang menjadi warna kebanggaan klub kesayangan sambil bernyanyi melantunkan pujian dan duka mendalam, Selasa waktu setempat.
 
Dalam insiden itu, sedikitnya 76 jiwa tewas dalam kecelakaan pesawat yang membawa 22 pemain inti Chapecoense, untuk laga final Copa Sudamericana 2016 di Kolombia. Ribuan orang berkumpul di tempat yang sama, mereka berbagai kebahagiaan kurang dari sepekan lalu.
 
Mereka mengenang, jalan-jalan di seputar kota pertanian kecil itu ramai dengan ungkapan suka cita, setelah tim mereka memastikan tiket ke final Copa Sudamericana. Pencapaian bagaikan kisah dongeng, bagi tim yang pada 2009 masih berada di divisi empat liga Brasil.
 
Seperti dilansir the Guardian, Rabu (30/11/2016) Chapecoense selangkah demi selangkah menapak naik, hingga dapat mencicipi Serie A mulai musim 2014/2015. Mereka bisa bertahan dengan segala keterbatasan, bahkan membuat kejutan musim ini dengan mencapai final Copa Sudamericana.
 
Lawan mereka klub raksasa Kolombia Atletico Nacional. "Kami juara!" teriak ribuan suporter, yang bergandengan tangan di atas lapangan, untuk memperingati para korban tewas. Rabu ini, semestinya adalah waktu digelarnya pertandingan final.
 
Kegairahan yang ada kurang dari sepekan lalu, telah berganti menjadi tragedi. Ribuan orang pendukung Chapecoense berkumpul di stadion. Mereka menyatakan perasaan bangga, meski hari ini mereka tidak bisa menyaksikan kehebatan tim mereka di laga, yang semestinya jadi pertandingan terbesar sepanjang sejarah klub.
 
"Kami telah mengalami harapan yang berubah jadi mimpi buruk," kata seorang pendukung Chapecoense, Fernando de Oliviera. Toko-toko, sekolah dan perkantoran pun ditutup. Bahkan, walikota menyatakan perayaan Natal dibatalkan, untuk melengkapi 30 hari masa berkabung.
 
Ribuan orang juga memadati jalan di sekitar gereja, untuk mengikuti misa bagi para korban. "Ini mungkin hanya kota kecil. Namun, kami tumbuh besar bersama tim kesayangan kami," kata Laura Zanotelli, remaja putri berusia 17 tahun yang ikut berkumpul di stadion.
 
"Sebagian besar pemain kami berasal dari kota ini. Saya bisa bertemu mereka dan keluarga mereka di jalan, seperti tetangga," katanya. Secarik kertas berisi kata-kata mengharukan dibawa seorang anak kecil, tampak jelas menggunakan tulisan tangannya: "Mereka tidak pernah lelah mendaki, dan sekarang mereka sampai di surga". (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,