Pasal Penghinaan Penguasa Jerat Tersangka Ahmad Dhani

Pasal Penghinaan Penguasa Jerat Tersangka Ahmad Dhani

Res,i dijadikan tersangka Ahmad Dhani dijerat Pasal Penghinaan Penguasa. (foto - ist)

Jakarta - Sebanyak 10 tersangka makar dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), ditangkap pada Sabtu 2 Desember 2016 dinihari. Kesepuluh orang tersebut ditetapkan sebagai tersangka, dengan tiga pasal berbeda.

Menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri Kombes Pol Rikwanto, untuk musisi Ahmad Dhani dikenakan Pasal 207, terkait penghinaan terhadap penguasa. Sementara tujuh tersangka dikenakan Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87, terkait permufakatan jahat untuk makar. 

"Jadi AD terkait Pasal 207. Yang tujuh itu terkait Pasal 107 juncto 110 juncto 87 KUHP dan yang dua orang lagi terkait Pasal 28 UU ITE," kata Rikwanto saat konferensi pers di Kantor Divisi Humas Mabes Polri Jakarta Selatan, Jumat (2/12/2016). Pasal 207 KUHP mengatur soal penghinaan terhadap penguasa dengan ancaman hukuman 1,5 tahun penjara. 

Sejauh ini, Rikwanto pun belum dapat menyampaikan lebih lanjut terkait hasil pemeriksaan 10 orang tersebut. Sebab, ada beberapa tersangka yang terlambat diperiksa karena menunggu pendampingan penasihat hukum. "Jadi belum bisa disampaikan tentang item hasil yang kita dapatkan dari pemeriksaan. Beberapa yang kita tangkap baru bisa diperiksa melewati siang, karena masih menunggu pengacara," katanya.

Dengan begitu, tujuh tersangka yang dijerat dugaan makar berinisial AD, E, KZ, RS, RA,SB, RK. Satu tersangka lain terkait dugaan penghinaan terhadap penguasa berinisial AD, dan dua lainnya melanggar UU ITE berinisial JA dan RK. Kini para tersangka makar dan pelanggar UU ITE, sudah diamankan dan diperiksa di Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat.

Mereka yang ditangkap

Seperti diketahui, Ahmad Dhani yang tengah mencalonkan diri menjadi Bupati Bekasi pada Pilkada serentak 2017, ditangkap di Hotel Sari Pan Pasific, Jumat dinihari. Di hotel itu, kepolisian juga menangkap aktivis sekaligus seniman Ratna Sarumpaet. 

Ratna mulai dikenal aktif dalam politik, setelah pembunuhan terhadap aktivis buruh Marsinah, pada 1993. Selama pemerintahan Jokowi-JK, Ratna memang dikenal kerap mengkritik kebijakan mereka. Sementara Adityawarman Thaha ditangkap di kediamannya. 

Sebelum ini, Adityawarman merupakan prajurit TNI dari Korps Zeni Angkatan Darat. Mantan Staf Ahli Panglima TNI itu, juga dikenal sebagai ahli bom terbaik pada pelatihan militer di Fort Bragg Amerika Serikat. Dalam ranah politik, Adityawarman aktif di Partai Bulan Bintang, dan pernah mencalonkan diri di Pemilu 2014.

Seperti Adityawarman, Mayor Jenderal (Purn) TNI Kivlan Zein juga ditangkap di rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Selama berkarier di TNI, jabatan tertinggi Kivlan adalah Kepala Staf Kostrad. Atas jasanya kepada negara, Kivlan bahkan mendapatkan beragam tanda jasa, mulai SL Kesetiaan XXIV Tahun hingga Bintang Yudita Dharma Naraya.

Selama ini, Kivlan tak pernah berpolitik praktis dengan terlibat menjadi pengurus partai politik. Namun demikian, ia dikenal dekat dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Selain itu, Sri Bintang Pamungkas yang ditangkap di kediamannya di kawasan Cibubur. Tahanan politik di era Presiden Suharto itu sudah aktif berpolitik pada dekade '90an. Awalnya dengan menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan, kemudian pada masa Reformasi mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia dan menjadi ketua umum.

Selama ini, Sri Bingang memang dikenal sebagai tokoh oposisi, baik pada masa Presiden Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, sampai Joko Widodo.

Tokoh lainnya, Rachmawati Soekarnoputri. Putri ketiga Presiden Soekarno ini ditangkap di kawasan Jatipadang Jakarta Selatan. Pendiri yayasan Pendidikan Soekarno ini merupakan salah satu Ketua Pembina Universitas Bung Karno. Dalam berpolitik, Rachmawati pernah aktif di Partai Nasdem, tapi keluar setelah menyatakan diri mendukung Prabowo pada Pemilu 2014.

Nama lainnya adalah Firza Huzein yang dikenal sebagai Ketua Solidaritas Sahabat Cendana, dan selama menjadi pendukung setia Presiden Soeharto. Nama-nama lainnya yang ikut ditangkap adalah Eko, Jamran, dan Rizal Kobar. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,