Buronan Kasus Korupsi Tambak Udang Rp 38 Miliar Diringkus

Buronan Kasus Korupsi Tambak Udang Rp 38 Miliar Diringkus

George Gunawan, buronan tersangka kasus korupsi dana bantuan program revitalisasi tambak budidaya udang Kabupaten Cirebon. (foto - ist)

Bandung - George Gunawan, buronan tersangka kasus korupsi dana bantuan program revitalisasi tambak budidaya udang Kabupaten Cirebon dengan kerugian negara mencapai Rp 38,1 miliar, akhirnya ditangkap Tim Gabungan Kejaksaan Agung menangkap.

Menurut Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Setia Untung Arimuladi yang bersankutan melakukan tindak pidana di Desa Bungko dan Desa Bungko Lor Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, dengan dana yang berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Kejati Jabar menetapkan George sebagai tersangka program bantuan kementerian kemaritiman, menyangkut budidaya udang di Cirebon pada JUni 2016. Nilainya Rp 38,1 miliar dalam bentuk barang," kata Untung di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Jumat (10/2/2017).

Ketika ditetapkan menjadi tersangka, lima surat pemanggilan tidak diindahkan. Oleh karena itu, per 14 Oktober 2016 tersangka ditetapkan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). "Kami minta bantuan Kejagung melalui monitoring center. Sampai akhirnya baru tanggal 9 februari 2017 jam 18.30, penyidik berhasil menangkapnya di hotel di Jakarta Selatan," katanya.

Saat itu juga, tim membawa George untuk langsung diperiksa kesehatan dan dinyatakan sehat, dan selanjutnya dibawa ke Kejati Jawa Barat. "Langsung kami lakukan penahanan untuk 20 hari ke depan di Rutan Kebonwaru,” katanya.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jabar, Anwarudin menambahkan, korupsi itu terjadi saat program bantuan dari KKP untuk revitalisasi tambak budidaya udang (defarm) di Desa Bungko dan Desa Bungko Lor Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon seluas 245 hektar. "Bantuannya berupa plastik, pompa, genset, kincir, benur dan pakan,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, pertambak diharapkan bekerja sama dengan mitra dalam membangun tambak defarm. George pun menyewa lahan milik beberapa kelompok penambak senilai Rp 200 juta, dan membuat tiga kelompok yang terdiri dari karyawan perusahaannya.

"Dalam kasus ini ada sembilan kelompok yang mendapatkan bantuan, sedangkan tiga kelompok lainnya merupakan hasil rekayasa dia karena terdiri dari karyawannya,” katanya. Tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 3 UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20/2001. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,