Upaya Emil 'Memanusiakan' Para Lansia di Kota Bandung

Upaya Emil 'Memanusiakan' Para Lansia di Kota Bandung

Mantan Gubernur Jabar R. Nuriana dan anggota DPR RI Popong Otje Djundjunan sebagai perwakilan lansia hadir dalam kegiatan Kongres Lansia di Pendopo Kota Bandung, Sabtu 25 Februari 2017. (foto - merdeka)

Bandung - Ratusan sepuh mewakili sekitar 194 ribu lansia (lanjut usia) yang ada di Kota Bandung menghadiri Kongres Lansia, yang berlangsung di Pendopo Jalan Dalem Kaum Bandung, Sabtu (25/2/2017). Kongres Lansia yang digagas Pemkot Bandung itu, memuat 10 poin aspirasi.

Menurut Walikota Bandung Ridwan Kamil, Kongres Lansia pada intinya agar lansia bisa dimanusiakan, karena hal itu sudah tertuang dalam Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia. "Ini sebagai awal yang bagus, di mana pemerintah punya keseriusan mengurusi lansia," kata salah seorang peserta kongres warga Kecamatan Arcamanik Kota Bandung. 

Ia menilai, sejak memasuki lanjut usia tidak ada kebijakan pemerintah yang menjalankan penuh UU No. 13/1998 itu. Dengan adanya Kongres Lansia, harapannya para lanjut usia bisa mendapatkan ruang dengan warga lainnya, yang masih berada di usia produktif.

"Wadah ini semoga menyangkut dalam segala hal baik transportasi, kesehatan. Kalau yang masih potensial diberi sarana. Ada yang kurang mampu diberi usaha," katanya, yang juga tergabung dalam Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Kota Bandung.

Dalam kongres itu hadir Popong Otje Djundjunan, anggota Komisi X DPR RI yang merasa perlu dirinya berada di tengah para sesepuh. Selama 20 tahun lebih menjadi wakil rakyat, Ceu Popong ingin menunjukkan bahwa lansia juga masih bisa berkarya.

"Ada pepatah yang muda yang berkarya. Enggak bisa gitu. Yang benar itu yang muda yang berkarya, yang tua juga berkarya," kata Ceu Popong yang tahun ini berusia 79 tahun. Ia merasa sedih jika mereka yang masuk usia lanjut seakan menjadi manusia tidak berguna. 

"Ada satu hal yang sangat menyakiti. Begitu pensiun seolah enggak ada apa-apanya lagi. Itu enggak boleh. Jadi saya tekankan yang muda yang berkarya. Yang tua tetap berkarya," tegas istri mendiang mantan Walikota Bandung, Raden Otje Djundjunan itu.

Sementara Ridwan Kamil mengaku, sejak ia mengenyam pendidikan dan bekerja di luar negeri selama tujuh tahun lamanya melihat, lansia itu dimanusiakan pemerintahnya. Di Kota New York Amerika Serikat misalnya, pernah seketika melihat para lansia berkumpul di pusat kotanya.

"Di sana sudah ada tradisi. Itu kota alun-alunnya hanya didedikasikan untuk Lansia. Saya terperangah. Sebab anak muda enggak ada. Mereka mengalah. Saya berpikir ini lansia kok happy gini," katanya.

Begitupun di Singapura, Emil juga pernah bekerja di sana melihat pemerintah memberdayakan lansia dengan potensi yang ada. "ereka dipekerjakan dengan yang motoriknya tidak besar. Lalu saat ke China, daerah itu juga menunjukkan pro terhadap lansia dengan programnya.

Memiliki kuasa sebagai walikota, Emil juga ingin membuat lansia di Kota Bandung bahagia. Itulah yang membuat dirinya ingin infrastruktur yang dibangun di Bandung ramah terhadap lansia. "Tiga pengalaman hidup ini nempel terus. Saya jadi walikota akhirnya tercetus untuk membahagiakan orangtua saya ini. Sebab ciri kota yang baik bukan untuk pria dewasa, tapi harus ramah Lansia," katanya, yang merunut hadirnya Taman Lansia, Trotoar ramah Lansia di sejumlah titik kota.

Ia mengatakan, 10 poin aspirasi kini ditampung untuk dijadikan satu program khusus bagi para lansia. Beberapa aspirasi itu sudah dirumuskan dalam beberapa gagasan, yang nantinya agar para lansia itu bisa dimanusiakan kembali keberadaannya. 

Ia juga mengaku menerima usulan, agar menggratiskan kendaraan umum angkot dan bus. "Insya Allah nanti akan kita pikirkan subsidinya". Pemkot Bandung juga memiliki program layan rawat. Jadi dokter yang datang ke rumah untuk memberikan pelayanan pada lansia. "Layan rawat ini akan cek dan datang untuk memastikan kesehatan untuk lakukan program pro aktif," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,