Korban Tewas Serangan Teror di Marawi Bertambah Jadi 21 Orang

Korban Tewas Serangan Teror di Marawi Bertambah Jadi 21 Orang

Korban tewas serangan teror di Marawi Mindanao Filipina bertambah menjadi 21 orang. (foto - Facebook)

Manila - Jumlah korban tewas akibat teror di Marawi, Mindanao terus bertambah mencapai 21 orang. Aksi teror bermula sejak Selasa lalu, yang ditandai dengan baku tembak antara militan pro ISIS dengan militer Filipina di sejumlah titik di Marawi, kota berpopulasi sekitar 200.000 jiwa.

Hingga Kamis, sekitar 30 hingga 40 pemberontak Maute atau Islamic State of Lanao, kelompok militan eks-Moro dan pro ISIS dikabarkan menebar teror dengan menembaki sejumlah rumah warga dan bangunan pemerintah, membakar bangunan, menduduki jembatan, rumah sakit, sebuah gereja dan kampus.

Dilansir Asian Correspondent, Kamis (25/5/2017) juru bicara militer Filipina Jo-Ar Herrera menyatakan, korban jiwa terdiri atas satu warga sipil, 7 militer Filipina dan 13 kelompok militan Maute. Aksi teror juga memicu evakuasi ratusan warga Marawi oleh militer.

Sementara para pemberontak dilaporkan menyandera seorang pendeta dan sejumlah anggota paroki sebuah gereja Katolik di Marawi. Penyanderaan dilakukan agar para pemberontak memiliki daya tawar dengan pihak militer yang tengah mengepung Marawi.

Kelompok Maute meminta pihak militer Filipina untuk menghentikan penembakan dan membiarkan para pemberontak pergi dari Marawi. Sebagai gantinya, para sandera akan dibebaskan oleh kelompok Maute. Kabar terbaru menyebut, Filipina telah mengerahkan sekitar 100 tentara tambahan untuk menggempur pemberontak Maute.

Beberapa di antaranya merupakan pasukan khusus yang dilatih oleh Amerika Serikat. Pasukan itu juga didukung oleh dua helikopter untuk membantu pemantauan melalui udara. Sejumlah kendaraan lapis baja untuk melakukan patroli darat pun dikerahkan.

Belakangan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer untuk wilayah Mindanao selama 60 hari. Status tersebut efektif sejak 23 Mei 2017. "Seperti yang diatur oleh konstitusi, saya mendeklarasikan darurat militer di Kepulauan Mindanao selama 60 hari dan efektif dimulai pada 23 Mei," kata Presiden Duterte kepada The Philippine Star.

Darurat militer yang dideklarasikan oleh Presiden Duterte berisi tentang sejumlah peraturan penting. Antara lain dibebaskannya aparat untuk menembak terhadap orang yang melakukan pembangkangan terbuka, melakukan penangkapan dan penggeledahan tanpa surat perintah dan pemberlakuan jam malam. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,