Umat Hindu Bali Larut dalam Perayaan Hari Suci Kuningan

Umat Hindu Bali Larut dalam Perayaan Hari Suci Kuningan

Umat Hindu Dharma di Bali rayakan Hari Suci Kuningan dalan rangkaian Hari Raya Galungan. (foto - ist)

Denpasar  - Umat Hindu Dharma Bali merayakan Hari Suci Kuningan dalam rangkaian Hari Raya Galungan yang bermakna memperingati Kemenangan Dharma (kebaikan) melawaan Adharma (keburukan), Sabtu (11/11/2017).

Hari suci Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah hari Galungan, umat Hindu menghaturkan sesaji (sesajen) di Pura maupun di merajan, tempat suci milik masing-masing keluarga. Mengenakan busana adat Bali, umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya setelah melakukan persembahyangan di tempat suci keluarga, melakukan kegiatan yang sama di Pura Jagatnatha di jantung Kota Denpasar.

Sebagian besar masyarakat melakukan hal yang sama ke Pura Sakenan Kelurahan Serangan, 12 km arah selatan kota Denpasar. Hari Raya Kuningan yang jatuh bertepatan dengan ritual besar (piodalan) di Pura Sakenan. Persembahyangan berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Pihak panitia dan bendesa adat Serangan menerapkan antrean masuk ke mandala utama (areal utama) pura, warga yang mengikuti persembahyangan agar upacara berjalan tertib dan khusyuk. Pura Sakenan, salah satu Pura "Sad Kahyangan" (pura besar) memiliki keunikan dan keistimewaan dibandingkan dengan tempat suci lainnya di Pulau Dewata. Yakni terdapat "Persada" berupa bangunan yang bertingkat-tingkat seperti limas.

Berdasarkan sejarah, Pura Sakenan dibangun oleh Asthapaka, seorang pendeta Budha. Hal itu dilakukan karena sang pendeta kagum akan keindahan laut terpadu dengan keindahan daratan. Sang pendeta merasakan kekuatan suci di tempat itu, sehingga sangat baik untuk memuja Tuhan demi keselamatan dan kesejahteraan umat manausia.

Menurut Akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Prof. Dr. Drs. Made Surada MSi perayaan Hari Suci Kuningan merupakan momentum instrospeksi diri untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan.

Kuningan adalah hari suci penyongsongan diri, agar umat dapat lebih merenungi dan introspeksi diri untuk dapat berperan secara baik dan benar dalam hidup dan kehidupan dunia ini. Dengan demikian, perayaan Kuningan merupakan pengejawantahan ajaran perasaan cinta kasih dari kemenangan dharma (kebenaran) itu sendiri, yang kemudian diwujudkan berupa pelaksanaan pelayanan dan pengabdian.

"Hal tersebut dapat dikupas secara filosofis beberapa sarana prasarana upakara dan upacara. Antara lain tamiang, sulanggi, tebog, wayang-wayangan, endongan, kolem, ter, dan nasi kuning, ujar Made Surada. (Jr.)**

.

Categories:Gaya hidup,
Tags:,