Gunung Agung Capai Level Tertinggi Hindari Radius 8-10 km

Gunung Agung Capai Level Tertinggi Hindari Radius 8-10 km

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) naikkan status Gunujng Agung dari level Siaga menjadi Awas. (foto - Reuters)

Karangasem - Warga Bali dan wisatawan khususnya  yang berada di sekitar Gunung Agung diliputi perasaan khawatir.  Hal itu mengacu pada laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yang memprediksi letusan Gunung Agung akan luar biasa menyamai letusan pada 1963 atau 54 tahun lalu.
 
Ketika itu, rangkaian letusan yang terjadi hampir sepanjang satu tahun, yakni Maret 1963 hingga Februari 1964 itu menyebabkan meninggalnya 1.148 orang dan terlukanya 296 orang. Awan panas yang melanda daratan seluas lebih dari 70 km persegi menjadi yang paling banyak memakan korban.
 
Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, I Gede Suantika menjelaskan, per tanggal 27 November 2017 pukul 06.00 Wita, pihaknya telah meningkatkan status gunung api, dari level tiga (siaga) menjadi level empat (awas).
 
Pada letusan yang terjadi tahun 1963, tercatat indeks letusan atau Volcanic Explosivity Index (VEI) Gunung Agung mencapai level lima. Berdasrkan pengamatan terhadap aktivitas Gunung Agung saat ini, Suantika mengungkap besarnya potensi VEI Gunung Agung akan menyamai catatan letusan pada 1963.
 
"Ini sama dengan tahun 1963. VEI-‎nya antara 4 atau 5. Kami deklarasikan mulai pukul 06.00 Wita, Senin ini statusnya kita naikkan dari Siaga menjadi Awas," kata Suantika. Menurutnya, peningkatan status menjadi awas ditetapkan PVMBG setelah melihat adanya peningkatan erupsi dari fase freatik menjadi magmatik.
 
Peningkatan erupsi terlihat dari semburan abu tebal yang terjadi terus menerus yang ketinggian 3.400 meter dari puncak gunung. Selain itu, suara dentuman yang terdengar hingga radius 12 km dari puncak gunung, menandakan potensi letusan lebih dahsyat yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat.
 
Terkait peningkatan status Gunung Agung menjadi Awas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat dan wisatawan yang berada di sekitar Gunung Agung, mematuhi zona perkiraan bahaya. Yakni di dalam area kawah gunung dan di seluruh area dalam radius 8 km dari kawah, serta perluasan sektoral sejauh 10 km ke arah selatan, utara, tenggara, timur laut dan barat daya.
 
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BPNB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, masyarakat harus tetap tenang, patuh dan terus mengakses informasi dari otoritas. "Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual," kata Sutopo.
 
Dari pemetaan terkait zona perkiraan bahaya itu, sebanyak 22 desa wajib dikosongkan. Adapun desa yang terdampak erupsi Gunung Agung adalah Desa Ababi, Bebandem, Datah, Pidpid, Nawakerti, Jungutan, Buana Giri, Dukuh, Kubu, Tulamben, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menaga, Pempatan, Peringsari, Selat, Muncan, Duda Utara, Amertha Bhuana, Sebudi dan Besakih.
 
"Warga di sekitar itu harus dikosongkan. Tidak boleh ada aktivitas apa pun dalam radius dan zona sektoral itu," tambah Sutopo. Sejauh ini, BNPB masih berjibaku dengan waktu untuk mengevakuasi seluruh penduduk dari 22 desa tersebut. "Petugas masih terus melakukan penyisiran dan mengimbau masyarakat agar mengungsi," katanya.
 
Sedikitnya sekitar 90 hingga 100 ribu masyarakat hidup di 22 desa tersebut. BNPB mensinyalir, masih adanya masyarakat yang belum mengungsi, karena berdasar catatan baru ada 40 ribu jiwa yang tercatat sebagai masyarakat dari 22 desa itu, yang telah berada di posko-posko pengungsian. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,