Tangisan Istri Melihat Setnov Jadi Terdakwa Korupsi e-KTP

Tangisan Istri Melihat Setnov Jadi Terdakwa Korupsi e-KTP

Suasana sidang Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 13 Desember 2017. (foto - ist)

Jakarta - Deisti Astriani Tagor, istri terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto hadir pada sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan. Deisti pun tampak menangis saat mendampingi Setnov.
 
Deisti mengenakan kerudung warna putih dan baju warna hitam, duduk di kursi pengunjung. Ia pun terus menundukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu, sesekali ia menyeka matanya dengan tisu. Hari ini, sidang perdana Setnov digelar. Sejumlah petinggi Partai Golkar terlihat hadir dalam sidang.
 
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Golkar Idrus Marham tampak hadir. Ia duduk di sebelah Deisti. Idrus sesekali menenangkan Deisti yang tak berhenti menangis. Idrus mengaku sengaja datang ke sidang perdana itu. Dia bakal menonton sidang hingga selesai.  "Ya kita ikuti sampai selesai," kata Idrus di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12/2017).
 
Setnov masuk dalam pusaran korupsi KTP elektronik yang diduga dilakukan bersama-sama. Ia disebut sebagai salah satu pihak yang berperan mengatur pembahasan anggaran proyek senilai Rp 5,9 triliun itu di DPR. Saat pembahasan anggaran di DPR, Setnov sebagi Ketua Fraksi Golkar.
 
Bahkan, ia disebut-sebut sebagai kunci anggaran dalam proyek yang menggunakan pembiayaan dengan sistem multi years atau tahun jamak itu. Setnov adalah orang keempat yang bakal diadili di Pengadilan Tipikor dalam kasus KTP elektronik. Sebelumnya, dua pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara masing-masing 7 tahun dan 5 tahun.
 
Sementara itu, terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong saat ini proses hukumnya masih berlangsung. Andi adalah pengusaha pelaksana proyek kartu identitas berbasis nomor induk kependudukan (NIK). Dari fakta persidangan tiga orang sebelumnya, Setnov kerap disebut berperan dalam proyek itu.
 
Setnov juga disebut ikut menerima sejumlah uang dari proyek tersebut. Ketua Umum nonaktif Partai Golkar itu diduga kuat telah menerima uang 7,3 juta dolar AS, dari para pengusaha pelaksana proyek KTP elektronik. Uang itu diberikan lantaran Novanto telah membantu memuluskan pembahasan anggaran di DPR.
 
Selain itu, Setnov juga menerima pemberian sebuah jam tangan merk Richard Mille seri RM 011 senilai 135 ribu dolar AS. Jam tangan asal Swiss itu diberikan oleh Andi Narogong dan Johannes Marliem. Atas perbuatannya, Setnov dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sidang perkara megakorupsi yang merugikan uang negara hingga Rp 2,3 triliun itu dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Yanto dan empat anggota Majelis Hakim, yakni Franky Tambuwun, Emilia Djajasubagja, Anwar dan Ansyori Syaifudin. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,