Kasus e-KTP, Ponakan Setnov Tersangka Terima 3,5 Juta Dolar

Kasus e-KTP, Ponakan Setnov Tersangka Terima 3,5 Juta Dolar

Irvanto Handra Pambudi Cahyo. (foto - ist)

Jakarta - KPK menetapkan keponakan Setya Novanto, Irvanto Handra Pambudi Cahyo dan orang kepercayaan Novanto, Made Oka Masagung sebagai tersangka baru di kasus e-KTP.

Irvanto diduga sejak awal mengikuti proses tender e-KTP dengan perusahaannya PT Murakabi Sejahtera, dan mengikuti beberapa kali pertemuan di ruko Fatmawati. Menurut KPK, meski perusahaannya kalah, Irvanto menjadi perwakilan Setya Novanto.

"Diketahui IHP (Irvanto Hendra Pambudi Cahyo) adalah keluarga atau keponakan Setya Novanto. IHP juga diduga telah mengetahui ada permintaan fee 5 persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran e-KTP," kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam konferensi pers, Rabu (28/2/2018).

KPK menduga, Irvanto kemudian menerima uang sejumlah total 3,5 juta dolar AS. Uang itu diperuntukkan buat Setnov. "Diduga IHP menerima 3,5 juta dolar AS pada periode 29 Januari hingga 19 Februari 2012, yang diperuntukkan buat Setnov secara berlapis dan melewati sejumlah negara," katanya.

Sementara itu, Made Oka Masagung diduga memiliki sejumlah perusahaan, yaitu PT Delta Energi, perusahaan SVP di bidang investasi di Singapura. Perusahaan itu diduga sebagai penampung dana untuk Novanto dengan jumlah total 3,8 juta dolar AS.

"MOM (Made Oka Masagung) melalui kedua perusahaannya diduga menerima jumlah total 3,8 juta dolar AS sebagai peruntukan pada Setnov. Rinciannya melalui perusahaan OEM Investment PTE LTD Singapura menerima 1,8 juta dolar AS dari Biomof Mauritius, dan rekening PT Delta Energi sebesar 2 juta dolar AS," kata Agus.

Selain itu, Made Oka merupakan perantara jatah komisi untuk anggota DPR. "MOM diduga menjadi perantara fee untuk Anggota DPR sebesar 5 persen dari proyek e-KTP". Perbuatan keduanya menyebabkan kerugian negara Rp 2,3 triliun.

Baik Irvanto maupun Made Oka diduga melakukan perbuatan bersama Setnov, Anang Sugiana Sudihardjo, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Irman dan Sugiharto. "KPK telah menemukan bukti awal cukup untuk menetapkan dua orang lagi sebagai tersangka, yaitu IHP (Irvanto Hendra Pambudi Cahyo) dari swasta dan MOM (Made Oka Masagung) juga dari swasta," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,