JPO di Kota Bandung Disorot Pengamat Transportasi

JPO di Kota Bandung Disorot Pengamat Transportasi

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) berlubang di Jalan Otto Iskandardinata Kota Bandung. (foto - ist)

Bandung - Warga Kota Bandung pada umumnya enggan menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Hal tersebut langsung disorot pengamat transportasi dari Insitut Teknologi Bandung (ITB), Soni Sulaksono.

Menurut Soni, sebagian besar fasilitas JPO yang ada di Kota Bandung memang tidak laik digunakan. "JPO di Kota Bandung memang tidak ramah buat pengguna, Kita lihat hampir semua yang ada di Bandung kondisinya terlalu curam, sehingga bikin sulit mereka yang mau menaikinya,” sebut Soni kepada PRFM, Sabtu (3/3/2018).

Selain itu, JPO di Kota Bandung juga tidak memenuhi standar. "Ada standanrnya kemiringinannya tertentu, kecuramannya tertentu, itu semua ada standarnya. Di Bandung ini tidak dibuat seperti itu, cenderung terlalu curam,” tegasnya.

Ia menyabatakan, JPO di Kota Bandung juga terlalu sempit sehingga tidak nyaman untuk digunakan. "JPO di kita lebih dibuat untuk dudukan iklan atau megatron, makanya tidak nyaman dan wajar kalau ditinggalkan oleh masyarakat,” tambahnya.

Untuk membenahi JPO tersebut, Pemkot Bandung perlu bekerja sama dengan pihak swasta. Misalnya, JPO dari Gramedia ke BEC cukup tinggi. Pembangunan JPO bisa dikerjasamakan dengan Gramedia atau BEC. Misalnya, pakai eskalator sehingga orang berminat untuk menyeberang sekalian akses menuju toko.

Selain karena JPO yang tidak memenuhi standar, kurangnya minat masyarakat dalam menggunakan JPO juga disebabkan karena masyarakat masih malas untuk berjalan kaki.

"Ada kecenderungan masyarakat malas berjalan kaki, sebenarnya itu bisa diedukasi atau sedikit dipaksa untuk menggunakan JPO. Jadi kalau kita membuat JPO yang sesuai standar dan tidak terlalu curam, kita paksa si pengguna jalan untuk naik ke JPO. Lalu kita edukasi, naik tangga itu sehat,” pungkasnya. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,